Thursday, July 09, 2009

Obamaputralaris

Lahir di RS Hermina Depok, April 2009

Thursday, January 01, 2009

Loper ke ISTANA, sebuah Khayalan?

Loper ke ISTANA, sebuah Khayalan?
Oleh Laris Naibaho

Selasa, (29/12) pukul 12.55, saya menerima telepon dari teman, Rina Ginting. “Bang, jangan pakai teleponnya dulu. Pak TeBe mau bicara.”

Wehehe. Hati saya bergolak gembira,kendati sedikit terkejut. Bukan apa-apa, saya akan ditelepon seorang public figure, pensiunan Jendral, dan mantan Menteri Aparatur Negara, yang dua hari sebelumnya sukses menghibur rakyat jelata di Jakarta Convention Centre yang menghadirkan Presiden Susilo Bambang Yudhono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan orang – orang penting lainnya di Indonesia saat perayaan Natal Bersama 27/12.

Peristiwa tersebut saya sebutkan sebagai anugrah. Apakah sikap saya ini berlebihan saya tidak tahu. Karena jangankan dari seorang mantan menteri, sms seorang Pemimpin Perusahaan, CEO atau Pemimpin Umum sebuah penerbitan saja bagi saya adalah peristiwa penting dan bersejarah. Biasanya jika itu terjadi, pasti akan saya catat dalam agenda, hari, tanggal, bulan, tahun, detik, menit dan jamnya. Apalagi kalau sampai telepon. Karena, pengalaman selama 33 tahun menjadi pedagang media cetak, hanya ada satudua PP,CEO,PU yang sudi meng sms “jongos”nya—para agen media cetaknya. Apalagi sampai menelpon. Mungkin meng sms atau menelpon jongosnya, martabatnya menjadi “berkurang” . Padahal , sesungguhnya para agen itu merindukan, terutama di saat-saat hari besar, Idul Fitri, Natal atau Tahun Baru. Tapi jangankan meng sms. Menjawab sms aja…hehe he.

Beberapa hari sebelumnya, saya memang diundang makan siang oleh Ompung TB (sebutan untuk TB Silalahi) di Hotel Shangrilla. Weh, kren deh. Tidak ada hubungannya dengan profesi saya sebagai loper. Tapi, karena saudara tertua saya Sinur Naibaho, dijadikan “Bintang”pada perayaan Natal 27/12 tersebut.

Saudara saya itu menjadi bintang, bukan karena cantik, pintar, dan apalagi karena kaya. Dia hanya punya “prestasi” yang menurut TB Silalahi sangat luar biasa, dan dapat dijadikan sebagai contoh dalam menghadapi Krisis Finansial yang terjadi.

Sinur Naibaho hanya tamatan Sekolah Dasar. Dahulu SR. Tapi dia gigih membantu orangtuanya marrengge-rengge (berniaga macam-macam, seperti, tomat, cabe, sayuran dan lain-lainnya) sehingga bisa menghidupi adiknya sebanyak 17. Dan setelah itu, dia mampu pula menyekolahkan 2 putra dan 1 putri ke jenjang S1, salah satunya tamat dari UI.

Pada saat makan siang itulah, saya menyerahkan dua buku yang saya tulis : Bincang Canda Imajiner, dan Lopertika, yang menurut TB Silalahi dibacanya sampai tuntas dan karena sangat tertarik dengan isinya, buku tersebut diberikan kepada Sudi Silalahi, kini menjadi Sekrtaris Kabinet, seorang Jendral dan mantan…

“Amang Laris, sebentar lagi Pak Sudi Silalahi mau bicara…”

Jantung saya, deg…deg. Degdegan lah. Betapa tidak degdegan, seorang sirkulator yang baru 2 tahun saja bekerja di sebuah penerbitan bisa membuat saya degdegan, karena otoritasnya.
“Horas Amang,”

“Horas, matutu,” jawabku dengan degup jantung yang lebih kencang.
“Sudi Silalahi do au—Saya Sudi Silalahi,” ujarnya, dengan nada santun, lembut dan tidak sedikitpun berciri militer yang dulu sangat menakutkanku.

“Sudi Silalahi Sekab i?” tanyaku, mulai tenang.
“Botul, amang!—benar, Pak!”

“Bah, ai aha do amang na porlu, na adong do salakku?—Apa yang perlu, Pak. Apa ada kesalahanku?” jawabku, dengan agak bercanda, karena itu tadi, suara dari seberang sana sangat santun dan bersahabat.

“Daong. Alai au anggota ni Amang do!—Ah, tidak. Tapi Saya ini anggotanya, bapak.”

Aku diam sejenak. Tak langsung menjawab. Pikiranku liar, kok bisa? Padahal saya tidak memiliki partai bahkan tidak anggota partai manapun.

“Aaaa, na margait do Amang?—Ah, yang bercandanya bapak?Bagaimana mungkin?”

“Begini, saya sudah membaca buku karya Amang. Sepanjang perjalanan dalam pesawat aku menangis. Tidak habis-habisnya air mataku mengalir. Saya tidak tahu harus mengatakan apa…”

“Kok, seperti itu,Amang?”

“Itulah. Membaca buku itu, membuat saya menerawang ke tahun 1967-1969 ketika saya sekolah di Bandung. Saat itu, untuk bisa membayar uang sekolah dan kebutuhan sehari-hari, saya menjadi loper. Yah, jadi Loper,” paparnya.

Dia diam sejenak. Sepertinya dia masih menahan perasaannya. Perasaanku menyibak, tangan kirinya memegang HP, tangan kanannya pasti menyeka air matanya.

“Loper itu sangat berjasa, Amang. Tapi orang tidak peduli. Dia mengantar dan mengantar.Dia bekerja dan bekerja. Tidak mengeluh, tapi luput dari perhatian…”

Aku diam mendengar.

“Karena itulah, Amang. Kalau nanti saya sudah sampai di Jakarta, saya akan mengontak Amang. Amang mau iya? Loper kita hadirkan ke Istana, bertemu Presiden. Pemerintah harus bangga bahwa ada Loper yang menjadi jembatan pendistribusian informasi…”

“Makanya ada Loper’s Day, Amang. Dan sudah 4 kali berlangsung,”potongku.

“Saya sudah tahu semua dari buku Amang. Tapi tidak mungkin semua loper ke Istana. Perwakilan saja, iya Amang,” pintanya dengan ucapan yang sangat santun.

“Baiklah, pak Sudi,” jawabku.
***
Aku diam. Membisu sejenak. Khayalku berkelana, dan melintaslah wajah-wajah sahabat para loper, sahabatku ; Agung Adi Prasetio, Sugeng Hari Santoso, Margiono, Dahlan Iskan, Kamsul Hasan, Wim Tangklisan, Leo Batubara, Ahmad Jauhary, Suryo Pratomo, Kristanto, Dedik Pristiwanto, Saur Hutabarat, Erick Tohir, Hari Tanu, Surya Paloh dan terutama Jakob Oetama. Satu persatu mereka menyenyumiku lembut. Punggungku di tepuk-tepuk dan bibir mereka mengalunkan, mirip slogan SBY, “Bersama Kita Bisa…Jangan ragu bung Laris Naibaho, kami ada di belakang dan siap membantu para loper.”

Pelan-pelan kelopak mataku mengatup dan air mata mengalir perlahan…

(Selamat Tahun Baru loperku
Selamat Tahun Baru teman-teman Agen Media Cetak
Selamat Tahun Baru Insan Wartawan
Selamat Tahun Baru Sirkulator—Bersatulah meningkatkan minat baca bangsa.)

***
Laris Naibaho
(masih tetap menjadi loper—tinggal di Jakarta—Ketua Umum Yayasan Loper Indonesia)

Thursday, December 25, 2008

14022 bin 24/7

14022 bin 24/7

Anda lapar di tengah malam dan tidak ingin “menyiksa” isteri untuk bangun hanya untuk merebus mie instan? Kontak saja 14022 dari hanphone anda. Tak lebih dari ½ jam, pesanan anda akan hadir dan perut yang kroncongan akan jinak.

Masalah perut memang bukan urusan mudah, sampai-sampai Orang Bijak berkata, “ Stomack can not wait”. Orang Batak mengenalkan isitilah ini dengan :

“Palu-palu ni ogung,
palu-palu ni sombaon,
molo male butuha,
manangko pe ulaon,”

yang artinya kira-kira, jika perut lapar, mencuri pun dikerjakan dan menjadi sah.

Kentucky Fried Chiken melounch nomor 14022 ini ke masyarakat. Memang bukan hal baru karena sebelumnya sudah ada 14045 dari Mc Donald. Tidak tanggung-tanggung, mereka bisa melayani masyarakat selama 24 jam dan non stop selama 7 hari, tanpa mengenal libur, karena sistem sudah mereka bangun dengan, “Kami ada, di mana anda ada.” Ini semua untuk memberi kenyamanan dan kemudahan bagi, sebutlah customernya.

Penerbit media cetak, katakanlah yang ada di Jakarta, jangan-jangan sudah lebih dahulu pula. Karena setahu penulis, agen berserakan di mana-mana, yang secara otomatis menjadi penyedia produk penerbit, sehingga penerbit tidak perlu harus membuat Unit Layanan sendiri. Karena toh, yang jadi persoalan, bukanlah soal kepemilikan, tetapi apakah produk terjual, omzet meningkat, dan profit tercipta. Itu yang perlu.

Sayang memang, keberadaan yang demikian, belum pernah di manage secara intelek oleh penerbit. Bahkan tidak satu penerbit pun yang pernah mau me-managenya. Karena semua merasa adalah pemilik agen dan pemilik loper. Itulah Indonesia…. Buktinya, belum pernah ada standarnisasi pelayanan seperti apa agen dan loper melayani langganan,” Engkau begitu, aku begini sama saja”.
***
Pada hari Minggu, 14/12, FS tiga tidak menerima kiriman suratkabar dari penerbitnya. Mobil yang biasanya mengantar mampir juga ke Jl.Bahagia Raya. Supirnya bilang, “Pak, jatahnya tidak ada. Dicoret,” sambil si supir menunjukkan surat jalannya. Benar . Di dalam daftar itu, memang dicoret tanpa alasan yang jelas.

Senin, staf FS tiga menelpon dan menanyakannya. Terus terang, hubungan dengan penerbit media yang bersangkutan sangat baik. Dan tidak ada masalah pembayaran, karena FS tiga masih yang terbaik di sana. Maklum jatah langganan pun hanya 15. Tahu apa jawabannya?

Setelah di pingpong sana-sini, seorang cowok yang sepertinya bagian sirkulasi menjawab dengan nada menyanggah. “ Ah, jangan-jangan sudah dikirim, hanya mengaku-ngaku aja…” katanya dengan nada curiga.

Jawabannya memang manyakitkan hati. Tapi, tidak ada alasan untuk sakit hati, karena ini menyangkut kwalitas, dan menjadi gambaran umum sirkulasi di Indonesia. Bukan apa-apa, yang lebih parah dari situ masih ada. Misalnya, disuruh mengambil ke sirkulasi, kalau diklaim kurang atau tidak terima.

Lalu. Lalu saya teringat dengan sebuah istilah dalam hukum : “Kepastian Hukum.” Istilah ini, memberikan semacam perlindungan kepada masyarakat dengan memberi defenisi yang pasti terhadap hukum, supaya pencari keadilan, dapat mendapat keadilan.

Tapi, di Indonesia, jangan coba-coba bertanya kepastian kehadiran media cetak di keagenan. Agen boleh – boleh aja membuat peraturan kehadiran loper untuk datang pukul 4.00 pagi hari, tanpa ada kepastian pukul berapa mereka bisa berangkat mengantarkan ke langganan. Mengapa begitu? Karena tidak pernah ada catatan waktu yang jelas pukul berapa suratkabar sampai di agen. Dan ini dia, belum pernah tertulis dalam pasal perjanjian antara agen dengan penerbit yang mengatur soal itu. Orang Batak bilang:

“Ijuk di para-para, hotang di parlabian.
Nabisuk nampuna hata, na oto tu pargadisan.”


Artinya?

Tanya saja Drs. Leo Batubara atau Apul D Maharaja. Dia pasti akan sukacita menjelaskannya…

***

Blessing

Blessing

Di antara duka, pastilah bertebaran suka cita. Lihatlah, tangis pemilik rumah yang kebakaran akan memberikan luapan kegembiraan bagi pemulung. Tetapi janganlah buru-buru memberi pernyataan kalau tukang peti mati berharap dan mendoakan supaya banyak yang meninggal dunia untuk mendapatkan rezeki yang melimpah.

Rudolf Pardede, langsung ambil kendali dan menjadi orang nomor 1 di Sumatera Utara, ketika pesawat Mandala yang ditumpangi T.Rizal Nurdin meledak di udara dan menewaskan seluruh awak dan penumpangnya. Boleh-boleh saja raut wajah menunjukkan sedih dan air mata mengalir…, tapi siapa yang tahu hati manusia?

Tak bisa disangkal, ada perubahan yang luar biasa dalam peta distribusi pers di penghunjung 2008 ini. Tak pernah ada yang menduga, tapi mata terbelalak dan mulut bergumam : “Apa, betul?”

Sebelumnya, semua mengalir seperti desas-desus. Maklum, di negeri ini desas-desus menjadi komoditi utama. Tumbuh cepat dan lebih sering mengalahkan fakta. Tetapi kini, setelah nama-nama mulai terpampang, orang-orang baru berdecak kagum dan lalu mulai tumbuhlah desas-desus yang baru dengan pertanyaan-pertanyaan, “ Ada apa? Apa yang terjadi?”

Sebetulnya apa pun yang terjadi adalah hal yang biasa. Tidak ada yang luar biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan. Toh, sudah disepakati, bahwa semua insan pers yang ada di Indonesia, Redaksi-Sirkulator-Agen-loper adalah insan yang bertugas untuk meningkatkan minat baca bangsa. Opla media cetak, masih sangat kecil dibanding jumlah penduduk. Artinya, mari saling mengasah untuk memperbaiki mutu dan pelayanan agar tiras menjadi naik. Maksudnya tidak perlu saling menjegal atau saling mengalahkan, tapi mari berlomba untuk menjadi yang terbaik.

Hidup Sirkulator
Hidup Loper.

HIKMAH


Hikmah
(Orang Dalam)


Tahun 2009 produksi sepatu Irak akan membajiri pasar dunia. Ini tidak terkait dengan kwalitas yang lebih baik daripada sepatu made in Italia, atau harga yang lebih murah dibanding produksi China atau Indonesia. Tetapi lebih pada kebanggaan setiap orang, khususnya yang merasa dirinya tertindas atau yang selama ini terkungkung dalam ketakutan, karena kebebasannya telah “dikerangkeng” oleh AS, melalui George Bush. Estimasi ahli ekonomi sepatu tersebut akan sangat laku keras di dunia ketiga atau Negara-negara yang terbelenggu oleh hegemoni AS, termasuk Indonesia.

Memang, saat ini, pengadilan di Irak masih sedang memastikan, perusahaan sepatu mana yang memroduksi sepatu yang dipakai oleh Muntazer al Zaidi melempar George Bush. Karena terkait dengan hak patent, dan agar lebih mudah menghitung royalty bagi Zaidi?

Siapa Zaidi? Kok berani, dan siapa otak di belakang itu semua. Adakah konspirasi Internasional di belakang semua itu? Ataukah Zaidi hanya sekedar membuat sensasi dan mencari popularitas?
Pertanyaan-pertanyaan yang terlalu umum, tetapi sebenarnya persoalannya sangat sederhana, karena orang awam juga tau…


Zaidi hanyalah seorang reporter. Hanya bermodalkan card dia mudah masuk ke mana pun. Nah, inilah yang dipakai oleh prajurit-prajurit AS untuk menyampaikan message kepada Bush, bahwa mereka sudah lelah berperang dan rakyat Irak sudah jenuh dengan slogan-slogan AS yang menyatakan, bahwa mereka harus ada di Irak untuk kemakmuran rakyat Irak, yang pada kenyataannya tidak ada perubahan bahkan menyengsarakan lebih banyak rakyat.


Prajurit AS sudah sangat lelah. Mereka telah berjibaku dari perang yang satu ke perang yang lain; dari Lebanon pindah ke Afganistan, dan kemudian Irak. Doktrin Bush terhadap prajurit jelas. AS harus kuat. Dan harus bisa menjadi polisi dunia. Kenyataannya, ini hanya sekedar taktik dan strategi agar perusahaan minyak Bush aman dan bisa melipat-lipatkan keuntungan. Tentu saja para Jendral di sekeliling Bush menikmati priveledge. Karena sudah menjadi kepastian di zaman sekarang, tidak ada lagi sebuah perang yang jendralnya di depan. Karena itu, yang tewas dan menderita adalah prajurit. Para jendral hidup bermewah-mewah, dan Bush bisa ekspansi terus. Konsep Bush yang tidak bisa ditawar-tawar, setiap tahun harus tambah satu kilang minyak.


Sikap Obama?


Obama mendapat durian runtuh dari kejadian ini. Dia tersenyum. Dia tidak suka perang dan kekerasan. Ini sesuai dengan latar belakangnya yang sangat cerdas. Dia yakin, bahwa perang akan memakan energy dan biaya tinggi. Ancaman-ancaman bukanlah hal yang terlalu efektif. Ancaman, sangat melemahkan jiwa dan pasti menciptakan “api dalam sekam” atau sebutlah bom waktu yang sesewaktu bisa meledak. Setiap kali ada kesempatan, dia selalu menganjurkan untuk membuat masyarakat freedom from fear—bebas dari ketakutan.

Dalam pikiran Obama, untuk bisa mengontrol dunia, tidak lagi dengan peluru tajam , bom, dan atau segala sesuatu yang menakutkan. Dia yakin, dengan perbuatan baik cukuplah. Artinya dengan memberi bantuan ke dunia ketiga, semisal, pendidikan, pangan, pinjaman lunak dan kesehatan, serta alat-alat kerja yang dibutuhkan dunia ketiga, pasti akan membuat masyarakat dunia berpaling kepada kepada mereka.

Jadi untuk apa perang, jika dengan membantu dan atau perbuatan baik dapat mengontrol dunia?.
***
Selamat Natal bagi rekan yang merayakannya. Kita sambut 2009 dengan penuh optimism : metode SP. SP bukan Suara Pembaruan. Tapi : Smile and Peace. ( mohon maafku, jika ada ucapan dan perbuatanku yang tidak berkenan di hati semua rekan-rekan. )

KOPI PAHIT

Kopi Pahit
Oleh : Laris Naibaho


Tukul sempat meringis, ketika acara yang dibawakannya Empat Mata dilarang tayang. Tapi, barangkali, sesuai slogannya Never Give's Up, dengan menambah satu kata Bukan Empat Mata, kini koceknya malah berlipat ganda.

Bukan Empat Mata, memang bukan karya semata Tukul. Kreator di belakangnya, tidak pernah berhenti mencari thema-thema yang aktual dan menarik untuk disajikan kepada penonton. Hasilnya, kendati acara ini sudah lebih satu tahun; Empat Mata + Bukan Empat Mata, penonton tetap setia dan jumlahnya bertambah tiap malam. Tentu saja dengan bertambahnya pemirsa, pemasang iklan pun berlomba-lomba untuk menjadi sponsor.
***
Kabar terbaru, di AS ada beberapa penerbit suratkabar yang bankrut, karena terlilit utang, atau adanya kejenuhan dari CEO nya untuk mengelola usaha penerbitan; meletihkan, tidak prospek dan atau memang sengaja membankrutkan diri, dan mengalihkan modal yang ada untuk membangun perusahaan di luar penerbitan, karena untungnya lebih besar, lebih cepat dan tidak perlu harus lelah menghadapi media internet yang sudah membumi dan nampaknya sulit dihambat.

Apakah penerbitan di Indonesia, lebih khusus lagi penerbitan yang berdomisili di Jabodetabek akan ada yang mengikuti? Ini pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak agen. Soalnya, dengan kondisi sekarang saja, agen sudah "kedap-kedip". Pembaca dan pelanggan berkurang, kecuali karena bersaing dengan media elektronik + Internet, juga pengaruh krisis global, yang menyuburkan angka pengangguran di kelas menengahbawah.
***
MenaiKkan harga suratkabar saat ini, tentu bukanlah bijaksana. Menutup apalagi, karena siapa lagi yang akan mendorong meningkatkan minat baca bangsa kalau bukan penerbit media cetak? Benar, menjadi pilihan pahit antara idealisme dengan bisnis yang bertujuan profit. Tapi masa iya awak penerbitan, sebutlah para CEOnya yang banyak juga alumni AS kalah sama Tukul?

Redesign halaman dan Format

Bila di situ ada pikiran, pasti ada jalan. Ada masalah ada solusi. Di awal kemerdekaan sedan-sedan di Indonesia besar-besar. Tapi, lihatlah di jalan, "small is beautiful" dan yang kecil itu lebih diminati, asalkan masih memenuhi kebutuhan pemaikanya.

Barangkali saja, mengambil contoh dari itu, penerbit mulai berpikir mengurangi jumlah halaman. Toh, banyak juga isinya hanya "berita basi", artikel "gendeng" dan ini dia...banyak juga iklan "busuk" yang kemarin, hari ini dan ntah sampai kapan ada trusssssssssssss. Padahal, saya dan Wim Tangklisan sudah sepakat mendefenisikan bahwa "Iklan adalah Berita".

Yang juga mungkin bisa di reduce adalah lebar halamannya. Tidak perlu lebar-lebar. Tangan saya selalu pegal melebarkan koran yang lebar. Ada suratkabar yang enak dibaca, tapi karena terlalu kecil, isinya sedikit dan iklannya tidak ada, menjadi sangat sulit untuk ditawarkan ke pembaca.

Jadi, untuk suratkabar-suratkabar yang berhalaman tebal, tapi isinya tidak lagi, maaf, tidak lagi perlu-perlu amat, pangkas saja. Trus, format, misalnyalah 11 cm lebarnya, kurangi 2 cm. Redesign format iklan displaynya, dan naikkan harganya. Pasti akan banyak uang yang bisa didapat; dari iklan dan dari cost untuk kertas.

Nah, penghasilan dari Iklan tentu saja digunakan untuk mengembangkan usaha penerbit itu sendiri. Sedangkan dari pengurangan kertas dialokasikan untuk loper, untuk buat tas, bantuan sepeda, dan biaya premi asuransi rawat inap, dan sekali setahun ber Happy New Year di Jakarta Convention Centre. Iya, nggak?
***
(Ngggggggggggggggggggak)
Kalau begitu, anda kalah sama Tukul.


--------------------------------------------------------------------------------
Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!!
Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah

Saturday, September 13, 2008

Persembahan

Persembahan untuk ayahandaku…

Ayah,

(Engkau bertahan
Dan sepanjang waktu tak lelah berdoa
kepada Tuhan agar ananda
teguhkan sikap untuk kerjakan yang terbaik
untuk loper tercinta…

Loper’s Day I di 2005 engkau tersenyum,
Loper’s Day II di 2006 engkau tertawa,
Loper’s Day III di 2007 dirimu hadir penuh energi,

Dan engkau minta dalam doamu,
“Tuhan berikan daku waktu untuk hadiri Loper’s Day 2008…!”

keriput tua pipimu,
uban menggenangi seluruh rambutmu,
sinar matamu kini mulai redup
dan keletihan membalut sekujur tubuhmu,
‘tuk dampingi ananda

tak hiraukan malam sudah larut
menunggu s’lalu ditempat tidur
Menanti derit pintu pastikan ananda tiba
dengan selamat…)

Among,

Ini kupersembahkan Loper’s Day 2008 sebagai kado ulang tahunmu yang ke 79:

28 Juni 2008

Dan buku ini, kutulis di antara deru hatiku
yang paling dashyat, semoga misi yang diemban
Loper’s Day tercapai kelak…
***

Tuesday, July 22, 2008

From Loper's Day with love


Sunday, July 20, 2008

Panitia Loper's Day bersama Jusup Kalla




Panitia Loper's Day 2008 diterima Wakil Presiden

Kamis, 19 Juni 2008 Panitia Loper's Day 2008 pukul 15.00 diterima oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Jusup Kalla di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat.

Saturday, July 12, 2008

Pengabdian Terakhir

“The Last Devotion”

Kuputuskan hari Sabtu besok mau istirahat total, sehari saja. Rencananya, saya mau tidur-tiduran di sebelah isteri tercinta sambil mendengar musik dan lagu-lagu kesayangan yang nyaris terlupakan selama empat tahun ini. Selain itu, kalau masih ada waktu yang tersisa, terpikir juga untuk menonton film India.

Musik tradisional Batak, dangdut, dan pop 80-an, masih mendominasi seleraku. Warna musik sekarang tak begitu kena ke seleraku. Seperti apa pun kupaksa diriku agar bisa menerima, tetap saja tak bisa. Kalau pun ada satu dua lagu yang nyantel, paling-paling hanya pada refreinnya, seperti:

Tuhan, kirimkanlah aku
Kekasih yang baik hati,
Yang mencintai aku,
Apa adanya…

Terus terang saya penggemar berat lagu dan film India. Itu sudah terbentuk jauh sebelum diriku menyeberang ke Pulau Jawa ini. Dulu, antara 1971-1974, setiap kali tiba di Pematang Siantar dari Pangururan, Samosir, selalu saya sempatkan menonton film India. Itu sebabnya mengapa sampai sekarang masih bisa kubayangkan wajah Hema Malini, Amita Bachan, Rishy Kapoor, Azhari dan yang lainnya.

Saya tidak tahu persis apakah karena terlalu sering nonton film India sehingga hati ini agak sentimental dan memiliki perasaan yang sedikit halus. Entahlah. Yang pasti, film India saya yakini berperan banyak dalam pembentukan watak saya.

Cobalah tonton film India dan cermati dari awal sampai akhir, ceritanya agak berliku. Tapi sesungguhnya sarat dengan filosofi kehidupan.
***
Benarlah. Sabtu pagi, sehabis melahap empat suratkabar ibukota (Kompas, Warta Kota, Republika, Investor Daily), kakiku melangkah ke meja komputer. Bukan untuk menulis atau mengutak-atik berapa omzet keagenan setelah hampir semua media cetak menaikkan harga langganan. Tidak. Hanya untuk menggolkan hasrat yang sudah kurencanakan sejak kemarin.
Klik. Aku buka media player. Kunyalakan sound system. Volume dan bass-nya saya kencangkan dari biasanya.

Sesaat kemudian musik gondang Batak berdentang.
Dunggdung…dung…dung…dung…dung, tolkultok, tokkultok, tolkultok, toittt…toittet….
Tokkultok, tokkultok…

Saya pun manortor (menari) sendiri. Wowo… Asyik nian. Sesuatu yang hilang selama empat tahun ini karena terlalu sibuk bekerja, seperti kembali ke dalam diriku.
Habis menggelar gondang, saya lanjutkan memutar dangdut.

Tak semua laki-laki bersalah padamu
Contohnya aku, masih mau mencintai mu
Hari ini
Aku berjanji, ijinkanlah aku
Untuk mencintaimu

Suaraku memang fals kalau menyanyi. Tapi saya tidak peduli apakah indah didengar orang lain atau tidak. Lagi pula, saya selalu menyanyi untuk konsumsi diri sendiri. Jadi, menyanyi keras-keras saja saya, apalagi kata dokter, bernyanyi dengan keras-keras bisa dijadikan obat stres.
Tapi…, apakah saya sedang mengalami stres saat ini?

Di tengah keasyikan mendengar dan menyanyi lagu dangdut, saya hampir tidak mendengar suara yang lain. Apalagi karena hari Sabtu, pikirku, tidak akan ada yang mengganggu dan kuganggu. Hampir semua rekan bisnisku libur. Tak tahunya, sudah berkali-kali pintu ruanganku diketok OB dan seorang tamu. Saya baru dengar ketokan pintu bersamaan dengan berhentinya dentuman musik.
***
“Lho, ada di sini?” sambutku pada pria yang sehari-hari berstatus bosku itu, karena ia salah seorang petinggi di sebuah penerbitan media cetak .

“Iya, Bang. Sudah saya rencanakan sejak Senin kemarin. Sayangnya setiap kali mau ke sini selalu saja ada halangan. Wehh…, capek juga. Seperti biasa, Sabtu begini saya selalu pulang ke Bandung untuk menjenguk isteri, sekalian kangen-kangenan. Tapi kupikir nanti sore saja.”

“Kenapa?”

“Bertemu dengan Abang bagi saya sangat penting.”

“Hehehe…, kayak orang penting saja saya ini. Jangan gitu dong ah, saya jadi kikuk nih…,” jawabku dengan senyum.

“Betul, Bang. Saya ke sini bukan untuk berbasa-basi, namun dari lubuk hati yang paling dalam. Kalau boleh berterusterang, saya mau menyampaikan uneg-uneg dan rasa penyesalan kepada abang.”

Matanya agak sayu kulihat.
“Ah, kamu ada-ada saja,” kataku dengan perasaan heran dan mulai bingung. “Hubungan kita kan baik-baik saja selama ini. Saya masih tetap agenmu dan kamu bosku. Kita tidak pernah berantem, kok.”

“Betul Bang, tapi…”

“Setahu saya, keagenan saya masih berjalan baik dan juga berusaha melakukan kewajiban dengan baik,” kataku tetap masih bingung karena menurutku tidak ada yang salah dalam hubungan kami.

“Ini tidak ada hubungan dengan keagenan Friendship Services, Bang. Tidak ada. Kehadiran saya semata-mata urusan pribadi dan tolong dengar keluh-kesah saya, Bang…”

Saya terdiam sejenak. Pikiranku berlabuh ke kantornya. Dalam hati bertanya, ada apa gerangan dengan dirinya.

“Oke, saya mau dengar keluh-kesahmu. Tapi kamu baik-baik saja, kan?” tanyaku untuk meyakinkannya, sebab ragu jangan-jangan kawan yang satu ini sedang stres juga. Saya bisa berpikir begitu karena di tengah situasi seperti sekarang, banyak juga awak penerbitan pers yang stres, terutama setelah harga kertas koran naik sampai 51 persen.

“Jadi begini, Bang,” ujarnya kemudian,”Email-email Abang itu selalu saya baca. Saya senang sekali karena YLI akan mengadakan pesta loper lagi. Menurut saya, ini spektakuler. Loper’s Day 2008 ini akan mengundang 50.000 loper. Suata hajatan yang sangat besar. Karena itulah saya datang ke sini, Bang. Apa yang bisa saya lakukan, Bang?”

“Lho, ini bukan hanya hajatan YLI, tapi seluruh penerbit media cetak di Indonesia.”
“Taruhlah begitu. Formalnya kan hajatannya YLI, Bang.”

“Oke, itu tidak terlalu penting untuk diperdebatkan. Kita sepakati saja bahwa ini hajatan bersama.”

“Abang jawablah pertanyaanku,” ujarnya denga nada meminta.
“Pertanyaan yang mana?”

“Itu tadi, Bang. Mmm…, apa yang harus saya kerjakan dalam rangka Loper’s Day 2008 ini?”

“Bah…! Masa aku yang menugaskan bosku? Hehehe…. Bagaimana kau ini?”

“Saya serius. Abang serius sedikitlah,” pintanya lagi.

“Saya juga serius. Kalau begitu, apa yang bisa kau kerjakan?” tanyaku balik.

“Saya siap untuk apa pun yang abang tugaskan di Loper’s Day 2008 ini,” ujarnya dengan mimik serius.

“Ah, yang benar… ?! Saya jadi gede rasa, nih.”

“Apa pun, Bang. Soalnya…,” ia terdiam sejenak dan kelihatan matanya berkaca-kaca.

Saya tak mau mengganggunya. Bagi saya, situasi seperti ini harus dibiarkan. Jangan diganggu, karena ia sedang “menikmati” alunan perasaannya.

Beberapa saat kemudian ia lanjutkan, “Selama ini saya sudah berpikir salah. Salah besar. Terlalu mengabdi kepada perusahaan sampai lupa agen dan loper.”

“Lho, kok bisa berpikir seperti itu?”

“Ya…, sekarangbaru saya sadari.”

“Kok?”

“Dalam RUPS minggu lalu diputuskan para bos untuk melakukan diversifikasi usaha dan akan membeli sebagian saham sebuah tv swasta. Menurut mereka, prospek media cetak ke depan kurang cerah, Bang, sehingga untuk mengamamankan modal, perlu menginvestasikannya ke bidang usaha lain, terutama media elektronik, tv.”

“Bagus dong. Berarti para komisaris dan direksimu orang-orang yang brilian cara berpikirnya,” tanggapku sekenanya.

“Betul. Tapi dari situlah masalahnya bagi saya. Dulu saya selalu dengan gagah-berani menolak setiap usulan yang berkaitan dengan agen dan loper. Saya pikir, keuangan penerbit harus kokoh dulu. Menurutku, tidak mungkin seseorang bisa menolong orang lain kalau dirinya sendiri lemah.”

“Begitu, ya. Tapi tidak salah sebetulnya pikiranmu itu.”

“Benar Bang, tetapi selama bertahun-tahun bekerja, saya terus melakukan pengawasan ketat agar profit perusahaan terus meningkat. Saya tidak memiikirkan agen dan loper. Nanti sajalah, pikirku. Bukankah kami harus kuat dulu? Jadi, selama saya ikut memimpin perusahan, kendati tetap berpangkat deputi, pertemuan-pertemuan dengan agen, loper, atau apapun pengeluaran yang berkaitan dengan agen dan loper, selalu saya pending. Hasilnya memang luar biasa.”

“Terus…? Apa yang menjadi masalahmu?”

Ia mendenguskan napasnya. Dalam. “Hasil RUPS itu, Bang,” ucapnya kemudian dengan nada lesu. “Seluruh profit, setelah dividen dibagikan kepada pemegang saham, akan digunakan untuk membeli saham perusahaan tv itu…”

“Salahnya di mana?”

“Salahnya iya tidak ada, sih, Bang. Salahnya memang ada pada diri saya. Saya salah besar dengan keputusan selama ini karena tidak ada lagi yang bisa dibagikan kepada agen dan loper. Sepeda, tas, santunan-santunan lain yang tadinya saya pikir akan dibagi tahun itu lenyap sudah. Bahkan ketika hal tersebut saya protes ke direksi, malah saya diminta pendi.”

“Pendi? Apaan tuh?”

“Maksudnya, pensiun dini, Bang.”

“Masak?”

Ia mengangguk dengan wajah lesu, “Karena itulah maka saya datang ke sini, Bang. Mungkin saya akan ambil pendi itu setelah tahu berapa jumlah yang ditawarkan. Tapi kayaknya berapa pun jumlahnya, saya pilih pendi sajalah, Bang.”

“Kenapa? Kan enak kerja di perusahaan besar?”

“Benar.., tapi menurut saya tak guna lagi terus bertahan di kantor sekarang. Perasaanku sudah tidak sreg lagi. Dan ini adalah kesempatanku untuk berbakti kepada loper. Mumpung masih pekerja di perusahaan pers .”

“Sudah kau pikirkan matang-matang?”

Ia mengangguk, “Saya sadar selama ini belum pernah mengabdi kepada agen dan loper. Kupikir, inilah pengabdian pertamaku dan sekalikus yang terakhir untuk para loper tercinta di LOPER’S DAY 2008 ini.”

“Hah?!”

“Hmmm…begini, Bang. Kalau pun saya tidak bisa memperjuangkan ke perusahaan supaya mendapat materi, sebagai kurir atau membagi makanan atau jadi tukang pijit Abang pun saya siap. Supaya keletihan yang mendera abang selama mengurus Loper’s Day 2008 ini bisa terpulihkan sedikit."

“Hah?!”

“Kutahu yang kumau, Bang..., ” ucapnya dengan senyum.

“Ojo ngono tho.”

“Saya serius, Bang!”

***
Kusambut tangan yang disodorkannya. Kutatap matanya. Kuterawang mata hatinya yang memancarkan ketulusan dan kejujuran. Saya tidak bisa lagi berkata-kata. Seketika seperti kudengar nyanyian nyaring didendangkan suara hatinya yang paling dalam…

Hanya iniTtuhan, persembahanku
terimalah Tuhan jiwa dan ragaku,
tiada kumiliki harta kekayaan…
***