Rumah maya ini merupakan kumpulan berita yang berasal dari isi pernyataan saya, di berbagai media massa, maupun tulisan-tulisan atau karya-karya saya sendiri baik yang sudah di publikasikan di media cetak atau pun belum. Mudah-mudahan Rumah Maya ini dapat memberikan informasi bagi pengunjung blogspot ini. Horas. Horas. Mauliate. Terima kasih.
Anak Yang Kukasihi
Obamaputralaris
Monday, December 31, 2012
"saya agak heran ini, dok. biasanya kan ongkos perawatan dokter hanya
25.000 rupiah. tapi kenapa sekarang jadi 100.000 ?" tanya si ibu.
"ya, memang. soalnya, anak ibu tadi menjerit-jerit keras sekali sehingga
tiga calon pasien saya lari nggak jadi berobat !" jawab si dokter.
“Ah, memang nahurang roha do
ho amanguda, loja iba mangalusi sungkun-sungkunmu. Dang bermutu. Bulus ma lao
iba tu kode tuakan laho minum tuak. Jolo
tuakon ma au asa hualusi ho.” ***
Saturday, December 22, 2012
Friday, December 21, 2012
Politisi Cap Kaki Tiga
J
|
![]() |
| Laris dan Obamaputralaris sama-sama Marga Naibaho |
Friday, December 14, 2012
“Tak ke lapo, Ompung?” Tanya Togarma, dengan intonasi menyelidik.
“Empat bulan ini aku tak mau ke lapo. Biar selesai dululah pemilihan Gubernur,” jawab Jamordong.
“Bah, Ompung ini! Apa hubungannya ompung ke lapo dengan pemilihan Gubernur. Ke Lapo khan urusan sarapan pagi, ngopi atau ngeteh, pemilihan Gubernur khan itu masalah politik, atau masalah Negara. Emangnya, Ompung ini siapa, kok, sampai menyetting diri seolah-olah ada hubungannya dengan semua yang terkait dengan pemilihan Gubernur?!”
“Babam! Sipma ho —diam kau! Itu urusanku. Kau uruslah urusanmu, yang rajinlah kau belajar, supaya kelak, kalau kau berhasil dan sukses, dan ada keinginan mau jadi Sumut-1, bisa menjadi calon yang benar, yang bermoral dan yang tidak hanya sekedar penjual kata-kata, atau pengumbar janji, mirip iklan kecap…”
“Apanya maksudmu Ompung, dengan mirip iklan kecap?!”kejar Togarma.
“E, tahe—Itulah kau. Mahasiswa latteungnya kau. Iklan kecap di mana pun selalu menyatakan, rasa dialah yang paling enak. Dengan iklan itu, secara otomatis kecap yang lain nomor 2 atau nomor seribu. Padahal namanya angka atau urutan, seharusnya ada kecap nomor 1,2,3 dst…Tapi apakah ada produsen kecap yang berani mengiklankan, ‘Kecapku, kecap no 2’ tidak ada itu.”
“Hua ha ha. Ompung ini ada-ada saja. Suka-suka mereka,dong! Mau menyebut produk mereka nomor 1 atau nomor berapa, itu khan hanya soal, bagaimana mempengaruhi pembeli. Kalau pembeli tertarik, yah beli. Kalau tidak, yah tinggal, atau pilih produk lain. Selesai. Tapi ngomong-ngomong, apa hubungannya Ompung menjadi alergi ke lapo hinga pemilihan gubernur Sumatera Utara ini selesai? Lagi pula, masih cukup lama, tiga bulan lagi lho, Ompung…!”
Jamordong tidak segera menyahut. Dia sadar, meski Togarma sering dilabelnya sebagai mahasiswa tolol, tetapi diam-diam diakuinya, cucunya ini cukup cerdas, karena mampu menyajikan pertanyaan dengan sistematis; APA—SIAPA—DIMANA—APABILA —MENGAPA—BAGAIMANA, mirip rumus 5W+H yang pernah didapatnya ketika sempat menjadi mahasiswa.
“Saya sudah niatkan tidak ke lapo selama 3 bulan ini, sampai pemilihan Gubernur selesai dan terpilih gubernur baru. Saya juga tidak akan ikut memilih karena bingung memilih siapa yang akan saya pilih, karena semua calon sudah menyatakan dirinya adalah yang pantas menjadi nomor SATU”
“Artinya memilih untuk tidak memilih?” potong Togarma.
“Ya. 100 untukmu. Saya tidak akan berangkat ke TPS, karena yah itu tadi, semua sudah mendeklarasikan dirinya sebagai nomor 1, seperti iklan kecap tadi. Pengalaman saya pada pemilihan Bupati yang lalu. Saya menjatuhkan pilihan kepada calon yang menyatakan dirinya nomor 1 dalam segala hal. Tapi, buttak-sirabunlah, semua janji yang keluar dari mulut calon yang kini jadi Bupati itu , omong kosong semua. Bahkan, kudengar si Bupati ini, setiap minggu ke Ibukota, bukan untuk melobby pejabat pusat, agar dana mengucur untuk pembangunan di sini, tapi hanya untuk menemui kekasihnya, yang menurut informasi sudah dinikahinya secara siri, atau PASU-PASU RAJA.”
“Ah, Ompung ini sudah rarat—sinting. Tidak benar itu. Itu hanya desas-desus yang dilontarkan yang tidak suka kepada Bupati. Tapi, sudahlah itu, aku hanya ingin tahu, mengapa ompung tidak akan ke lapo sampai pilgub selesai!”
“Ai sukkun-sukkunmu hira pewancara ni tipi—Pertanyaanmu kok, seperti pewancara di tv?”
“Jawablah ompung, tidak usah berkelit! Mengapa menghindar ke lapo?”.
“Okelah. Ini menyangkut kesucian hati saya, dan agar bangunan kekeluargaan saya tidak retak atau hancur. Itu sebabnya. Karena kalau aku ke lapo, potensi untuk marbada—bertengkar dengan yang lain tinggi, sangat tinggi. Dan saya tidak mau terjadi, hanya karena pilgub ini hubungan saya terhadap haha-anggi, ito, lae tertutama hula-hula dan tulang, menjadi retak,” ujar Jamordong dengan rawut wajah mulai mengkrut
“ Kurang jelas, Ompung! Jawaban Ompung ini, seperti mengada-ada, dan tidak nyambung. Ibarat ocehan orang Betawi, ‘Jaka sembung naik ojek. Nggak nyambung, kek! Wakakak.”
“Otakmu nya yang dangkal. Maka jangan hanya mendengar. Simak juga apa yang kukatakan,” tangkis Jamordong.
“Tapi nggak jelas, Ompung. Coba urai deteilnya.”
“Heh! Kau tahu kalau di lapo. Di situasi seperti ini, di sana akan berkumpul semua orang-orang yang mengaku paling tahu. Semua akan mendadak menjadi pakar atau ahli dalam menganalisa, terutama menganalisa politik. Dan jeleknya, bisa berujung terciptanya kelompok atau pribadi-pribadi yang terbelah akan terbelah menjadi tim sukses si Anu dan si Binu. Setiap orang sangat ekstrim menjagokan jagonya. Semua akan “berprofesi” menjadi pedagang, penghubung, dan bisa jadi, tiba-tiba semua merasa dirinya dibutuhkan oleh para kandidat gubernur. Nah, pengalaman yang lalu, saat pemlihan Bupati yang ber-efek, di mana sampai sekarang, saya menjadi tidak bersapaan dengan tulang ni anggi borukku namarpariban kandung dohot salah satu calon bupati yang kalah pada waktu yang lalu. Bahkan, waktu boru ni anakku menikah, dia tak lagi datang mangulosi. Apalagi, terus terang saja, saat ini, kiriman anakku dari Jakarta agak dikurangi. Kau tahulah, kalau ke lapo, semua mengaku orang hebat, tapi bayar kopi dan lampet yang disantapnya, bisa jadi atau tak sungkan membebani orang lain…
***
(Laris Naibaho—Direktur Eksekutip Forum Pemerhati Penerbitan Pers Indonesia—Tinggal di Jakarta)
Togarma yang kini berstatus mahasiswa dan duduk di semester 6 di salah satu Pergururan Tinggi di Medan, jurusan Psikologi, mendengar saja dengan sabar, sesabar-sabarnya, ocehan Kakeknya. Dia berpikir, dan tahu betul, salah satu obat terbaik bagi seseorang bila ada yang mendengar curahan hati yang sedang stress. Togarma paham betul itu.
“Bayangkan Togarma, 67 tahun sudah negeri ini lepas dari penjajahan. Selama itu, kita masih berkutat dan berpikir apa saja yang akan kita lakukan untuk mensejahterakan rakyat negeri. Padahal Malaisya saja, yang dulu masih mengemis agar kita mengirimkan guru-guru untuk mengajar mereka, kini hidup rakyatnya sudah sejahtera. Pendapatan per kapita rakyatnya jauh di atas kita. Saking sejahteranya, meng-import ‘babu’ dari sini, dengan upah yang setara dengan gaji seorang guru SLTA di sini. Bayangkan itu. Padahal buruh di sini, harus berunjuk rasa di Ibukota negeri serta rela berjemur di panas dan berbasah ria di hujan yang lebat, hanya untuk ‘memaksa’ Pemerintah meluluskan upah minimum, yang tidak lebih dari 2,5 juta. Negeri massam manalah ini?!”
Togarma tetap bergeming , tapi otaknya liar sambil menerawang dan merajut sudut-sudat kota, bawah jembatan, terminal, perkampungan kumuh yang dipenuhi dengan orang-orang; kumal, pesong, gila dan yang setara dengan itu, yang hidup hanya beralaskan bumi, berpayungkan langit, tanpa ada yang menjamah apalagi peduli, sementara di lain pihak, para pejabat negeri mempertontonkan hidup mewah. Sudah begitu, masih saja mengeluh, meski sudah memiliki beberapa rumah, mobil, dan gaji yang tinggi, ditambah tunjangan ini – itu, tetapi mereka masih saja asyk ria mengatakan, begini –begitu, agar rakyat melakukan penghematan ini dan itu…
“Terus degan situasi seperti ini, apa sebenarnya yang harus berubah agar rakayat bisa seperti yang ada di benak kakek?” Interupsi Togarma, di tengah kakeknya yang kian berbusa-busa menganalisa ini – itu,dan mulai merembet ke figur-figur Bupati, Gubernur, Presiden, DPR dan pejabat-pejabat lainnya, intinya, menurut Jamordong, pejabat sekarang ini , sudah lebih banyak mengingkari sumpah jabatan daripada mematuhinya.
“Togarma. Lihatlah! Seorang Bupati di kabupaten termiskin di Sumatera Utara saja, yang lalu lintasnya lengang memerlukan forerider utntuk bupati di jalanan. Kalau Bupati akan hadir di satu Kecamatan, murid-murid setempat diliburkan untuk menyambutnya. Belum lagi, Jumat siang sudah berangkat ke Bandara, lalu ke Ibukota Negara, dan baru kembali hari Senin siang ke kotanya untuk menandatagani daftar hadir, agar seolah-olah ada di kantornya.”
“Lho, saya kira tidak ada yang salah jika seorang Bupati mendapat keistimewaan itu, dan saya kira untuk itulah orang berlomba untuk bisa menjadi Bupati. Dan masa, sih, seorang pejabat harus miskin dan menderita, Kek?” pancing Togarma.
“Hah?! Bagaimana mungkin seorang Bupati harus mengatakan, misalnya, ‘ miskin itu bukan dosa” atau ‘ kita harus memerangi kemiskinan’ berjuang melawan kemiskinan, harus tabah, harus berjuang, harus jujur dan harus bekerja keras, kalau dia melakukan hal yang sebaliknya? Contoh itu, lebih baik daripada perintah. Camkan itu, siapa tahu kau kelak akan menjadi Bupati di tahan kelahiranmu.”
| Obamaputralaris, anak hasianku yang membuatku masih setia mendiami dunia |
***
Laris Naibaho (Tinggal di Jakarta)
Tulisan ini telah dimuat di Metropolitan Pos, bulan November 2012
Wednesday, March 30, 2011
SUSNO DAN PALU HAKIM
Palu telah diketok oleh Hakim. Dan Susno divonis oleh Hakim, 3,5 tahun penjara. Menyedihkan . Tuan Peniup Pluit yang membuka borok para penyalah-gunakan hukum, jelasnya para mafia hukum; perbankan dan pajak ini kendati belum resmi menjadi penghuni Hotel Prodeo, karena masa penahanan sudah habis, pastilah mencabik-cabik perasaan masyarakat dan penggiat pencari keadilan. “Keadilan di Negeri ini sudah mati!”
Susno memang masih akan Banding, Kasasi, PK, untuk mendapatkan keadilan itu dan bebas dari segala sangkaan, tuduhan, dan apalagi hukuman. Ini jika hukum masih diartikan dan digunakan untuk mencari keadilan. Tapi jika Hukum sudah dinodai dan di balik semua keputusan ini, terkait Politik, apalagi terkait dengan Kekuasaan, maka biarpun seluruh pengacara yang ada di negeri ini dikerahkan, tetaplah Susno akan dihukum, atau jangan-jangan pada tingkat Banding akan ditambah, karena semua orang sadar dan telah tersadarkan kini, bahwa Susno harus dibungkam, untuk melindungi pihak-pihak yang ditengarai adalah kelompok Mafia Hukum.
KEYAKINAN HAKIM
Hukum di negeri ini sepenuhnya hanya milik Hakim. Mutlak. Karena tuntutan Jaksa, pembelaan Pengacara, hanya pernik atau penghias persidangan. Apalagi pendapat para pakar hukum, sepertinya tidak ada gunanya.Maka teori-teori, pembuktian dan segala macam, untuk menyatakan si terdakwa tidak bersalah, tidaklah terlalu berguna. Kalau Hakim yakin, ketok palu, hukumannya, sekian bulan, sekian tahun, sekian puluh tahun dan seterusnya.
Ini, terjadi, karena tidak ada patokan berprilaku dari seorang Hakim yang memimpin persidangan. Tidak ada patokan untuk menghukum. Kalau Hakim sudah yakin si terdakwa bersalah, maka suka-suka dialah menjatuhkan hukuman. Tidak ada yang bisa menggugat hakim karena putusannya. Kalau tidak setuju, yah, paling – paling naik Banding, atau Kasasi, atau PK. Karena sekali seseorang melakukan sesuatu, semisal “mengatai” Hakim dengan begini atau begitu, maka dia bisa dituduh telah melakukan “penghinaan” atau “contempt of court”. Jadi, apakah perlu menyajikan fakta-fakta dalam persidangan kalau semua adalah berdasarkan “keyakinan” Hakim? Lalu bagaimana, jika hakimnya keliru meyakini, dan bagaimana kalau hakimnya juga sudah “ berembuk” di luar persidangan dengan pihak-pihak yang harus dimenangkan?
Pasrah Saja
Persoalan Hukum di negeri ini, bukan soal hukumnya. Hukum atau UU sudah bagus. Tapi prakteknya. Kekuasaan lebih dominan daripada penterapan hukum sesuai dengan hukum itu sendiri. Lihatlah apa yang dialami oleh Susno ini. Bayangkan untuk seorang Jendral berbintang *** dan bekas Kabareskrim Polri pun bisa mengalami hal seperti itu. Dia “tiup” dan dia “Menyanyikan” segala karut – marut praktek mafia peradilan. Logikanya, kalau dia tidak bersih, kecil kemungkinan dia meniupkan pluit. Kalau dia memang melakukan praktek korupsi dan penyalah gunaan jabatan, masuk akalkah kalau dia sangat nyaring menyanyikan semua perilaku atau penyimpangan hukum di negeri ini? Tetapi itulah yang terjadi. Vonis 3,5 tahun sudah diketok. Nah, kalau ke seorang Jenderal pun bisa dilakukan seperti itu, apalagilah kepada rakyat jelata yang tidak mengerti hukum. Lalu mau di bawa ke mana negeri ini?
Itulah soalnya. Maka kalau kita melihat ada yang korban jadi tersangka, Pritha misalnya, dan yang melapor malah bisa ditahan, maka kelak, ini bisa saja terjadi, masyarakat pencari keadilan tidak lagi percaya terhadap penegak hukum, dan karena putus asa, sehingga berpikir dan lalu bertindak dengan “Hukum Rimba”, maka hancurlah negara ini. Pertanyaan, haruskah ada revolusi di bidang ini, atau kita biarkan saja , dan negara menjadi tak bermartabat?
Tapi, percaya atau tidak percaya, pasti masih banyak Hakim-hakim dan calon-calon Hakim dan calon Pemimpin di negeri ini yang memiliki hatinurani. Hatinurani adalah peralatan rohaniah manusia yang menjadi hakim bagi dirinya. Dan dia tidak pernah keliru untuk “Menghakimi diri sendiri.”
***
Laris Naibaho
![]() |
| Obamaputralaris |
Notes
Just because you are alone,
just because your smile
simply because the force
and your gestures
I survived and life
to be beautiful.
(Bahagia 7, 31.3.11)
Thursday, March 11, 2010
SURAT DARI RANTAU

Maaf Inong, Aku Urung Mencalonkan Diri Jadi Bupati
Inong naburju,
Kuruungkan niatku mencalonkan diri sebagai Bupati periode ini. Ini pastilah mengecewakanmu Inong, karena tidak sesuai dengan permintaanmu bahkan mungkin saja Inong akan memarahiku, atau menjadi murka karena menganggabku sebagai anak yang tidak mau dan mampu menaikkan harkat keluarga dan apalagi martabat marga.
Masih jelas di benakku, intonasi suaramu, dan betapa dalam makna yang kau paparkan, agar aku meneguhkan hati dan tanpa ragu-ragu mencalonkan diri jadi Bupati. “Ikhon pajonjongonmu do margattai hasian—harus kau tampilkan marga kita,”ujarmu, sambil menambahkan, bahwa saya pasti bisa memimpin daerah ini dengan kecerdasan, kejujuran dan bakat kepemimpinan yang kumiliki, yang menurutmu, hal itu sudah kubawa sejak lahir, dan tanpa ragu juga engkau menyebutkan, waktu aku kau lahirkan ke dunia, dirimu menerima pesan langsung dari Oppu Mulajadi Na Bolon, bahwa kelak aku akan memimpin daerah di mana aku dilahirkan, dan di tanganku daerah ini akan makmur dan penduduknya akan sejahtera.
Inong, mohon ampun.
Saya tidak bermaksud mengecewakanmu. Pembatalan ini sudah kupikirkan secara matang. Memang, barangkali saja ini apriori, atau terlalu dini menyimpulkan, kalau aku mendaftar dan maju ke pertarungan Juni nanti, aku pasti kalah mutlak. Sangat tidak mungkin saya bisa bersaing dengan calon-calon lain, baik yang incumbent—yang masih sedang menjabat, maupun calon-calon lain yang sudah mempersiapkan diri dengan modal uang yang hitungannya sudah di luar akal sehat dan pasti juga sangat jauh dari kemampuan kita, Inong. Karena kalau dijualpun semua warisan ayah; kerbau, sapi dan tanah yang dipinggir Danau Toba itu, kalah jauh dari jumlah yang sudah dipersiapkan oleh calon-calon lain.
Bayangkan Inong, mungkin ini hanya desas-desus, atau hanya sekedar gertak sambal, supaya semua orang yang berniat mencalonkan diri jadi Bupati, jika tidak memiliki uang milyaran bahkan puluhan milyar, jangan coba-coba masuk arena, atau kalau masuk pun, siap-siap saja mendapat malu atau dipermalukan oleh keadaan.
Inong, saya sangat paham dan mengerti jalan pikiranmu. Ini tentu sesuai dengan usiamu yang menanjak tua, yang barangkali tidak lagi sesuai dengan zaman , di mana segala sesuatunya sudah diukur dan dihitung dengan uang. Uang saat ini sudah menjadi Tuan, Inong. Bukan lagi hamba. Dan uraianmu, kalau aku maju, maka seluruh marga saya, margamu yaitu para tulang otomatis akan memilihku. Menurutmu jika dihitung dan dibandingkan dengan seluruh marga-marga calon Bupati lain yang maju, jumlah marga kita ditambah dengan margamu ditambah seluruh Hula-Hula, termasuk Hula-Hula abang dan adikku, jumlahnya jauh lebih besar, biarpun seluruh calon Bupati yang lain bergabung.
Tapi Inong, ini bukan soal marga. Marga memang penting. Dan terus terang Inong, kalau pun tadinya saya maju tidak akan memolitisasi marga. Saya tidak ingin warga memilih saya hanya karena bermarga sama dengan mereka. Atau karena saya berenya, hula-hulanya, dan atau yang berkaitan dengan hubungan-hubungan kekerabatan lainnya. Saya tadinya,murni ingin bertarung, dengan mengandalkan kecerdasan, kejujuran, serta keinginan luhur untuk membangun daerah ini tanpa syarat, bahkan berencana, jika terpilih jadi Bupati, seluruh gaji saya akan saya sumbangkan untuk membangun Rumah Jompo, agar tidak lagi ada orang-orang tua yang merana, karena tidak dipedulikan oleh anak-anaknya.
Inong, mohon ampunmu,
Saya tidak ingin gegabah mengatakan ini itu, dan apalagi “menghakimi”. Trus terang, bingung juga mendengar, kalau Calon Bupati harus menggelontorkan uang sampai milyaran rupiah. Jumlah yang tidak sedikit dan apabila dihitung dan dibandingkan dengan seksama, dengan gaji seorang Bupati selama 5 tahun, tidak akan kembali, meskipun sudah ditambah insentif ini-itu yang resmi adanya sesuai ketentuan.
Inong,
Dirimu pasti tidak percaya dan barangkali saja akan menuduhku pengecut. “Belum bertarung sudah merasa kalah.” Tapi sesungguhnya, dan ini kudengar langsung dari rekan-rekan di kampung, saat ini, hepeng sungguh-sungguh jadi panglima--Ringgit Sitio Soara menjadi penentu. “Kau bayar berapa suaraku?” Suara seperti inilah yang kini sangat popular. “Ada uang, suaraku untukmu”. Jadi tidak diperlukan lagi calon-calon menjelaskan visi dan misi. Karena rakyat di sana sudah bosan dengan segala bentuk retorika. Mereka butuh yang nyata-nyata. Pengalaman membuktikan, janji ini-itu saat kampanye, lupa pada saat berkuasa. Dan karena itulah, tapi ini pun barangkali, karena itulah rakyat memilih yang cepat, simpel dan bisa segera digunakan untuk membeli, seliter beras plus seekor ayam, kendati hati mereka pada dasarnya ingin memilih yang sungguh-sungguh kredibel menjadi Bupati.
Jadi, Inong, Inongku yang baik.
Tidak usah gusar, dan aku tetaplah anakmu yang dulu, yang akan hadir 5 tahun lagi untuk mencalonkan diri jadi Bupati, di saat semua rakyat meyakini dan membutuhkan pemimpin yang tidak gila kekuasaan, yang benci pada korupsi dan yang meniadakan dirinya secara total untuk mengabdi kepada masyarakat. Dan saat itulah aku akan hadir, dan Inong pun layak tersenyum.
***
Laris Naibaho
Direktur Eksekutif Forum Pemerhati Penerbitan Pers Indonesia (FPPPI)—tinggal di Jakarta.
***
Tulisan ini sudah dimuat di Harian Umum BATAKPOS, Sabtu, 13 Maret 2010)
Wednesday, February 24, 2010
Bank Century Di Lapo
Ntah, sampai KABAN masalah Bank Century ini selesai, Ussok. Para PAKAR ekonomi saling SILALAHI. Semua merasa diri benar, dan kebenaran seolah-olah hanya berada pada diri dan kelompok masing-masing. Kalau semua mengklaim diri benar, lalu kebenaran mana yang tidak benar? Ah, kupikir mereka ini sudah pada LIMBONG semua?
Kasus Century ini telah menyita semua energy SIJABAT dan rakyat Indonesia. Mereka lupa, bahwa PLN yang nyala-mati, nyala mati, karena pasokan BATUBARA untuk bahan BAKARA yang menipis, atau lebih tepat disebut dalam keadaan yang sudah GINTING, seharusnyalah ada yang SIBARANI mengambil alih kepemimpinan, sehingga rakyat tidak lebih lama sengsara. Lihatlah, harga-harga di pasar menjadi SILANGIT, karena para menteri yang mengawaki ekonomi otaknya sudah SITOMPUL, sehingga TAMBUNAN hutang LN kita terus SITINJAK, dan dalam 4 tahun ke depan, sepertinya tidak mungkin MANURUNG, apalagi setelah ditandatanganinya perdagangan bebas China-ASEAN.
Ussok, hasian.
Dalam PANDIANGAN amongmu ini, seharusnya pansus ini segera memutuskan, apakah akan memejahijaukan mereka yang dianggap melanggar hukum atau memetieskannya. Rakyat sudah bosan, dan lebih baik mereka mengurusi hutan yang mulai GIRSANG karena ulah penebang yang tidak bertanggungjawab, yang mengakibatkan habitat SINGARIMBUN, SINAGA menjadi terancam. Hal yang mendesak, upah buruh HARIANJA, yang tidak lagi bisa menjangkau harga barang-barang yang naik NAPITUPULU prosen, sehingga para buruh hampir setiap minggu SIHOTANG sana-sini untuk mengasapi dapur. Karenanya, tidak berlebihan, jika karyawan rendahan di perusahan atau pegawai negeri menjadi sering SIMORANGKIR untuk mencari uang TAMBA-han, bukanlah sesuatu yang asing lagi, ussok. Salahkah mereka? Padahal petinggi di negeri ini, karena gaji yang besar dan “tonjakannya” cukup wah, maka mereka bisa merasakan PERANGIN-ANGIN di BUKIT yang menyajikan segala macam kesenangan.
Ussok,
Ada keraguan amongmu ini untuk menapaki masa depan. SEBAYANG di benak jika harga-harga sembako SITORUS bergerak naik seperti apa yang amongmu amati setiap hari di PASARIBU, maka pada saat kau berumur 6 tahun nanti dari sekarang , amongmu ini sudah pasti tidak mampu menyekolahkanmu. Aneh memang, hasian. Para pengambil keputusan di negeri ini, sepertinya hanya mementingkan diri sendiri dan tidak lagi NAMBELA rakyat. Padahal SIMARMATA mereka jelas melihat betapa sengsaranya rakyat saat ini. Gula, garam, dan sembilan bahan pokok trus merangsek ke atas. Bayangkan, segelas air mineral saja, harganya PANGARIBUAN, padahal sumber daya air melimpah-ruah di negeri ini, salah satunya adalah DANAU TOBA. Tidak logis memang,kalau di negeri ini, bisa lebih mahal air daripada bensin.
Ussok, capatlah besar.
Dan jangan usik aku dengan tangismu. Tangismu seolah-olah menggugat Tulangmu NAHUM SITUMORANG, yang memaparkan dalam lagunya, betapa banyak hassang, padi, bawang dan hewan-hewan di SAMOSIR yang kini hanya sekedar untaian bait kata dalam lagu. Karena sesungguhnya, ini menurut Lae SIMBOLON, Calon Bupati 2010, di atas SAMOSIR sana, hutannya sudah gundul, sungainya sudah kering,karena penebangnya sudah pada SEMBIRING atau tidak waras, karena demi mengejar keuntungan, hutan yang seharusnya bisa mengayunkan angin SIREGAR, kini tinggal menyisakan panas dan kekeringan...
Dan, ah ussok hasian, jadilah kelak engkau Presiden, dan HARAHAP saya begitu tinggi padamu, semoga nanti keberanian bersarang dipikiranmu untuk memberantas dan mengandangkan semua orang tidak menyayangi hutan, yang korupsi, yang mengemplang pajak, tanpa syarat, dan tanpa kompromi. SILAEN itu, permintaanku itu mutlak, katakanlah yang benar itu benar. Jangan pernah takut, mengeluh, apalagi minta dikasihani. Karena itu bukan sebagai ciri kepemimpinan yang tangguh. Kelak dari balik tanah dimana jasadku bersemayam, akan kudampingin dirimu untuk menjadi Presiden yang tegar.
***
(Laris Naibaho—Ketua Umum, Yayasan Loper Indonesia—tinggal di Jakarta)
telah dimuat di Harian Umum Batak Pos, Jumat 19 Februari 2009
Wednesday, February 17, 2010
Bank Century Di Lapo

Bank Century Di Lapo
Ntah, sampai KABAN masalah Bank Century ini selesai, Ussok. Para PAKAR ekonomi saling SILALAHI. Semua merasa diri benar, dan kebenaran seolah-olah hanya berada pada diri dan kelompok masing-masing. Kalau semua mengklaim diri benar, lalu kebenaran mana yang tidak benar? Ah, kupikir mereka ini sudah pada LIMBONG semua? Lalu KABAN
Kasus Century ini telah menyita semua energy SIJABAT dan rakyat Indonesia. Mereka lupa, bahwa PLN yang nyala-mati, nyala mati, karena pasokan BATUBARA untuk bahan BAKARA yang menipis, atau lebih tepat disebut dalam keadaan yang sudah GINTING, seharusnyalah ada yang SIBARANI mengambil alih kepemimpinan, sehingga rakyat tidak lebih lama sengsara. Lihatlah, harga-harga di pasar menjadi SILANGIT, karena para menteri yang mengawaki ekonomi otaknya sudah SITOMPUL, sehingga TAMBUNAN hutang LN kita terus SITINJAK, dan dalam 4 tahun ke depan, sepertinya tidak mungkin MANURUNG, apalagi setelah ditandatanganinya perdagangan bebas China-ASEAN.
Ussok, hasian.
Dalam PANDIANGAN amongmu ini, seharusnya pansus ini segera memutuskan, apakah akan memejahijaukan mereka yang dianggap melanggar hukum atau memetieskannya. Rakyat sudah bosan, dan lebih baik mereka mengurusi hutan yang mulai GIRSANG karena ulah penebang yang tidak bertanggungjawab, yang mengakibatkan habitat SINGARIMBUN, SINAGA menjadi terancam. Hal yang mendesak, upah buruh HARIANJA, yang tidak lagi bisa menjangkau harga barang-barang yang naik NAPITUPULU prosen, sehingga para buruh hampir setiap minggu SIHOTANG sana-sini untuk mengasapi dapur. Karenanya, tidak berlebihan, jika karyawan rendahan di perusahan atau pegawai negeri menjadi sering SIMORANGKIR untuk mencari uang TAMBA-han, bukanlah sesuatu yang asing lagi, ussok. Salahkah mereka? Padahal petinggi di negeri ini, karena gaji yang besar dan “tonjakannya” cukup wah, maka mereka bisa merasakan PERANGIN-ANGIN di BUKIT yang menyajikan segala macam kesenangan.
Ussok,
Ada keraguan amongmu ini untuk menapaki masa depan. SEBAYANG di benak jika harga-harga sembako SITORUS bergerak naik seperti apa yang amongmu amati setiap hari di PASARIBU, maka pada saat kau berumur 6 tahun nanti dari sekarang , amongmu ini sudah pasti tidak mampu menyekolahkanmu. Aneh memang, hasian. Para pengambil keputusan di negeri ini, sepertinya hanya mementingkan diri sendiri dan tidak lagi NAMBELA rakyat. Padahal SIMARMATA mereka jelas melihat betapa sengsaranya rakyat saat ini. Gula, garam, dan sembilan bahan pokok trus merangsek ke atas. Bayangkan, segelas air mineral saja, harganya PANGARIBUAN, padahal sumber daya air melimpah-ruah di negeri ini, salah satunya adalah DANAU TOBA. Tidak logis memang,kalau di negeri ini, bisa lebih mahal air daripada bensin.
Ussok, capatlah besar.
Dan jangan usik aku dengan tangismu. Tangismu seolah-olah menggugat Tulangmu NAHUM SITUMORANG, yang memaparkan dalam lagunya, betapa banyak hassang, padi, bawang dan hewan-hewan di SAMOSIR yang kini hanya sekedar untaian bait kata dalam lagu. Karena sesungguhnya, ini menurut Lae SIMBOLON, Calon Bupati 2010, di atas SAMOSIR sana, hutannya sudah gundul, sungainya sudah kering,karena penebangnya sudah pada SEMBIRING atau tidak waras, karena demi mengejar keuntungan, hutan yang seharusnya bisa mengayunkan angin SIREGAR, kini tinggal menyisakan panas dan kekeringan...
Dan, ah ussok hasian, jadilah kelak engkau Presiden, dan HARAHAP saya begitu tinggi padamu, semoga nanti keberanian bersarang dipikiranmu untuk memberantas dan mengandangkan semua orang tidak menyayangi hutan, yang korupsi, yang mengemplang pajak, tanpa syarat, dan tanpa kompromi. SILAEN itu, permintaanku itu mutlak, katakanlah yang benar itu benar. Jangan pernah takut, mengeluh, apalagi minta dikasihani. Karena itu bukan sebagai ciri kepemimpinan yang tangguh. Kelak dari balik tanah dimana jasadku bersemayam, akan kudampingin dirimu untuk menjadi Presiden yang tegar.
***


