Anak Yang Kukasihi

Anak Yang Kukasihi
Obamaputralaris

Thursday, July 27, 2006

Dukungan Untuk Loper Fun Run Mengalir Deras

Wajah ceria, dan semangat membara tampak dari wajah-wajah awak sirkulasi yang hadir dalam rapat lanjutan pelaksanaan Loper Fun Run. Tak tanggung-tanggung, sebagian di antaranya meninggalkan rapat penting di kantor, hanya untuk mengikuti rapat, yang dipimpin oleh Dedik Supardiono, Manajer Sirkulasi Republika yang menjadi Ketua Pelaksana perhelatan ini.

" Saya tinggalkan rapat dengan rekan pemasang iklan untuk menghadiri rapat ini. Tidak bermaksud apa-apa. Tapi ini untuk menunjukkan penerbitan kami sangat antusias dan mendukung acara ini. Seluruh staf di sirkulasi, iklan dan moga-moga juga awak redaksi akan hadir dalam pesta ini, sekaligus berperan untuk membantu panitia," ujar Windalaksana, GM Koran Tempo dan Majalah Tempo ini, kepada rekan-rekannya yang hadir.

Begitu juga dengan Tyasna Hery, Manager Sirkulasi The Jakarta Post, mengatakan, seperti halnya dalam Loper's Day 2005, mereka akan terjun total, tanpa syarat. "Saya usulkan awak redaksi harian kami akan meliput acara ini, sehingga dunia akan mengakui keberadaan loper di Indonesia," ujarnya.

Rapat yang digelar mulai pukul 14.00 ini untuk mendapat masukan, apa dan bagaimana Loper Fun Run ini akan dilakukan sehingga loper tercinta mendapat hiburan dan perhatian yang sepatutnya, diakhiri dengan seruan dan tepuk tangan. Rosa dari Media Indonesia yang bertanggujawab untuk acara tampak terharu biru menyaksikan rekan-rekannya yang begitu semangat mendukungnya." Saya akan lakukan yang terbaik demi loper," cetusnya pelan, pelan sekali. Mungkin titik puncak keharuan membahana dalam dadanya.

Wednesday, July 26, 2006

MatiKetawaAlaLoper : Loper Lugu

Seorang Loper yang sedang mengendarai motornya dihentikan oleh Polantas sesudah ia meliwati lampu merah perempatan Cempaka Putih. Si Loper rupanya sedang buru-buru mengantar suratkabar ke sebuah apartemen, karena sudah telat datang di agen.

"Tahu, kamu salah apa?” Tanya polisi dengan nada membentak.

"Melanggar lampu merah, Pak Polisi!" ujar si Loper polos.

“Jadi mengapa masih menerobos, padahal sudah melihat lampu merah menyala?”

“Sejujurnya, Pak. Saya tidak melihat bapak! Tapi saya dengan jelas melihat lampu merah menyala,” jawab si Loper tanpa merasa terbeban.

“Kutilang kamu…!”

“Jangan sembarangan ngomong Pak Polisi. Saya ini manusia.”

“Hah, kamu melawan petugas? Kutilang kamu…!” Bentak Pak Polisi kesal.

“Ah, kamu pikir aku ini takut. Perkutut kamu…,” ujar si Loper lepas kendali. Dalam pikirannya Pak Polisi mengejek dia sebagai burung Kutilang.

Pak Polisi : (Menjadi bengong…bengong dan bengong. Sampai lupa mengeluarkan buku Tilang), dan si Loper pun ngeloyor membawa motornya…rrrr.

Semangatnya Cahyo ME Republika


ME yang lain masih ada yang bertanya-tanya, apakah Loper's Day tahun ini ada atau tidak, eh, ME Sirkulasi Republika ini, sudah demikian bersemangat untuk menginformasikan kepada agen-agennya, bahwa Loper's Daya yang bertajuk Loper Fun Run ini akan dilaksanakan, Senin 21 Agustus 2006 yang akan datang.

"Saya senang bangat, Pak! Tak tahu menggambarkannya. Tapi barangkali karena setiap hati saya bertemu dengan para Loper. Saya bayangkan, betapa maraknya hati mereka nanti. Sudah dapat kaos, makan, hiburan, door prizenya besar banget lagi," ujarnya bersemangat. Sangat bersemangat lagi...


Tapi Cahyo, ini pekerjaan bareng-bareng. Jangan lupa mengajak ME dari penerbit lain. SEbab, Lopermu, Loperku, yah Loper kita bersama. Iya, nggak?

Pemimpin Redaksi Koran Investor Daily, Siap Terjunkan Tim Untuk Loper Fun Run


Masih tetap seperti dulu. Seperti 15 tahun yang lalu ketika mengawaki Uang dan Efek. Sederhana, tulus dan bersemangat. Dan lebih bersemangat lagi, kalau sudah menyangkut loper. Masih terobsesi dalam hatinya yang paling dalam, agar loper mendapat tempat dihati semua pihak, bukan hanya dari kalangan Pers, tetapi juga dari pengusaha lainnya. " Tetapi kalau pengusaha Pers pun tidak peduli terhadap loper, lalu siapa lagi?" ujarnya dengan nada bertanya.

"Jadi, Bung jangan ragu-ragu menghubungi saya. Saya siap diperintah, selama itu menjadi kepentingan loper," serunya, dengan senyum dan mata berbinar. "Dan saya akan buatkan tim khusus, agar dapat meliput dari berbagai aspek mengenai kehidupan Loper ini, dan kegiatan ekonomi yang terkait dengannya," ujarnya.

Memang, Primus Dorimulu masih seperti dulu. Tulus dan selalu memberi semangat. Semangat untuk menyemangati laskar yang bernama loper yang menurutnya, tanpa loper media cetak akan lumpuh. ***

Tuesday, July 25, 2006

Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan Pimpin Tim Untuk Liput Loper Fun Run


Willy AP Hangguman, bukan hanya senyum dan gembira menerima panitia Loper Fun Run, tapi juga bersemangat untuk membantu, khususnya memberitakan peristiwa bersejarah yang akan digelar Senin, 21 Agustus 2006.

Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan ini, bahkan terobsesi agar ajang ini menjadi pusat perhatian dunia, karena barangkali menjadi momen pertama di mana lebih 10.000 ribu loper akan berlari-ria di Istora Senayan Jakarta.

“Saya akan turun langsung memimpin tim redaksi untuk meliput. Dan selain itu, saya akan mendorong penerbitan yang saya pimpin untuk berbuat sesuatu, misalnya dengan menjadi jembatan antara YLI dengan perusahan asuransi, sehingga para loper tercinta bisa mendapatkan proteksi kesehatan,” ujarnya bersemangat kepada Sekretaris YLI, Dicky EA.

Pemimpin Redaksi yang sangat berharap keaadaan perekenomian negeri ini akan pulih, sehingga minat beli dan minat baca meningkat lagi, meminta agar seluruh kuli cd berperan menyukseskan acara Loper’s Day yang bertajuk Loper Fun
Run ini.

“ Peranan Wartawan demikian penting dalam kehidupan Loper. Sebab,
mereka sangat bisa mengangkat derajad para Loper di mata masyarat melalui
pemberitaan. Dan jika itu terjadi, percayalah profesi me-loper di kemudian
hari akan menjadi sejajar dengan pekerjaan lain,”

ujarnya dengan roman wajah yang menunjukkan kesungguhan.

Monday, July 24, 2006

Pemimpin Redaksi Sinar Harapan : Kami akan ekspos Loper Fun Run


Pemimpin Redaksi Sinar Harapan : Kami akan ekspos Loper Fun Run

“Kami akan ekspos acara Loper Fun Run. Dan bukan hanya itu, kami pun akan menerjunkan seluruh awak sirkulasi untuk membantu panitia, agar acara tersebut berlangsung sesuai rencana,” ujar Kristanto, Pemimpin Redaksi Sinar Harapan, Senin, 24 Juli 2005, di Ruang Rapat, Gedung Sinar Harapan, Jl. Raden Saleh, Jakarta Pusat.

Dalam pertemuan yang cukup singkat tersebut, Dia berharap agar rekan-rekannya di penerbitan lain juga melakukan hal yang sama dengan apa yang akan mereka lakukan. Harapannya, dengan Loper Fun Run ini, masyarakat luas akan menerima loper sebagai bagian dari diri mereka. “Sudah waktunya Loper ini mendapat perhatian dari semua pihak, karena tanpa mereka mana mungkin media akan sampaia ke pembaca. Jadi marilah bersama-sama menyukseskan Loper Fun Run ini,” pintanya dengan serius.

Who Am I?

W H O A M I ?
By: Laris Naibaho

Who am I?
My body frame pass among the howling dust
Between noise and traffic jam
My skin becomes bruise by the sun’s heat
And the clothes on my entire body,
almost never been worn neatly,
for I have to give chase the buyers

Who am I
My body becomes the arena of promotion
Today I wear a vest with this colour
Another day I do with the other one
I become a human who useful as a money machines
And I am worth, if I earn piles of money

Who am I
Every day these both hands are full of product
I must step forward deftly
And count second by second,
In order to able welcome the buyers
A second wasting, means losing a livelihood
Sometimes I have to hide and seek from the officers
And not rarely become the object of scorn
Merely and because of wish to reach for the sales target

Who am I
I don’t know, whom I belong to?
Therefore, to whom I should complain
When my body becomes tired
And at the moment it will be unable to shout
And run on the street any more

Who am I
It’s imagined in my mind,
If my body has to cooped up in the hospital there
Who cares about me?
Of course, I can share with nobody
There are so many people posses my self, don’t they?


***

Friday, July 21, 2006

Suryo Pratomo Dukung Pelaksanaan Loper Fun Run


"Kami akan dukung Loper Fun Run,"jawab Suryo Pratomo yang lebih terkenal dengan panggilan Tommy, Jumat, 21 Juli 2006 di Gedung Kompas, Jl. Pal Merah Selatan, Jakarta Selatan

Pimred HU Kompas ini, mengemukakan, seperti halnya ketika Loper's Day 11 Maret 2005 yang lalu akan tetap mendukung apa pun yang menyangkut kebaikan kepada Loper. "Bagian redaksi kami akan mengekpos seluruh kegiatan tersebut, agar masyarakat luas tahu tentang keberadaan Loper," ujarnya.

Toomy, dalam pertemuan kilat yang juga dihadiri oleh Pemimpin Umum Warta Kota Dedi Pristiwanto tersebut meminta seluruh panitia untuk bekerja keras, dan memeriksa dengan teliti segala hal yang berkaitan dengan pesta lper tersebut. "Wah, kita pesta lagi bersama Loper iya, Bung?" tanyanya disertai senyum. Yah, senyum khas seorang Tommy.

Thursday, July 20, 2006

Mati Ketawa Ala Loper : Loper Pemberani

Seorang Loper melaju kencang dengan kecepatan 180 km/jam, lebih tepatnya ngebut untuk mengirim koran yang terlambat melintasi jalan raya di tengah kota. Ketika ia melihat didepannya ada sebuah perempatan, dan lampu pengatur LaLin-nya menunjukkan warna kuning, iapun menambah gasnya, hingga pada waktu lampu merah menyala, ia terus melaju tanpa berhenti. Akibatnya, sang petugas,polisi LaLin, mengejar sang pemuda itu karena telah menerjang Lampu merah. Beberapa lama kemudian, tertangkaplah sang pemuda itu oleh polisi yang mengejarnya. Dan, polisi itu bertanya : "Selamat siang, Mas !"

" Selamat siang, Pak ! ", jawab si Loper

"Mengapa anda tidak berhenti ketika lampu merah tadi menyala ? Anda tidak tahu, apa artinya merah ? "

" Berani, Pak! " Jawab si Loper enteng. Di benaknya terekam nama-nama wartawan yang menjadi mitra Polisi yang dia yakin akan membelanya, kalau toh di tilang.Sang Polisi hanya bisa bengong.

Tapi dalam hati mengumpat, “Dasar Loper…!”

***

Dedik Supardiono : Tanggalkan Atribut, Mari Bersatu


Ketua Pelaksana Lofer Fun Run :Tanggalkan Atribut, Mari Bersatu

“Sah saja kita bertarung di pasar. Namanya juga bisnis. Siapa yang lebih dekat dengan Agen atau loper, tentu akan mendapat respon yang lebih tinggi. Tetapi untuk Loper Fun Run ini, mari kita bahu-membahu, agar berjalan sukses,” ujar Dedik Supardiono, Ketua Pelaksana Loper’s Day—Loper Fun Run.

Ajakan tersebut di atas mendapat sambutan yang cukup tinggi dari para sirkulator dan agen media cetak yang hadir pada rapat panitia, Kamis 20 Juli 2006 ruang rapat Yayasan Loper Indonesia, Jl.Tebet Barat IV No.33, Jakarta Selatan.

Rapat yang dilanjutkan di rumah kediaman Agum Gumelar di Jl.Panglima Polim ini menyepakati, akan memberi yang terbaik kepada para Loper, diantaranya akan menghadirkan para artis-artis kondang, seperti para penyanyi di KDI 2.

Rapat tersebut juga dihadiri oleh para Penasehat acara ini, Kamsul Hasan, yang kini jadi ketua PWI Jaya, dan Ian Situmorang, GM tabloid olahraga terkondang saat ini, BOLA.
***

Ketua PWI Jaya : Bolos Kuliah Demi Loper


Ketua PWI Jaya Kamsul Hasan Bolos Kuliah Demi Loper

Kuliah memang penting. Bukan apa-apa, karena tanpa gelar SH dan tidak memiliki sertifikat Advokad bagaimana mungkin untuk membela rekan-rekan yang bekerja di industri pers?

Undang Undang tentang Advokad memang mengharuskan seseorang yang ingin menjadi pembela berlatar belakang hukum, pun harus menjadi anggota AAI. “Jadi saya kuliah lagi di sore hari, agar siapa tahu, jika kelak ada masalah yang menyangkut rekan-rekan di industri pers, termasuk di antaranya para loper, saya dapat membelanya,” ujarnya.

Tapi ternyata, kendati kuliah penting, yang lebih penting lagi, ialah menghadiri rapat panitia Loper’s Day, yang dilaksanakan ruang santai rumah Agum Gumelar, Kamis sore, 20 Juli 2006. “Saya bolos kuliah, Bung. Saya tahu, Loper’s Day yang bertajuk Loper Fun Run, ini jauh lebih penting. Karena saya tahu siapa itu Loper, saya sangat dekat dengan mereka. Mereka perlu diberi perhatian, yah yang sifatnya menghiburlah,” ujarnya, mengenai ajang Loper Fun Run, yang dia sendiri menjadi Penasehatnya.

Kamsul Hasan sangat berharap dan meminta ke semua pihak, khususnya para pengusaha pers, dan awak yang bekerja di industri pers, agar secara bersama-sama mendukung acara ini. “Saatnya Tahta untuk Loper,” tegasnya.

Monday, July 17, 2006

Doa DAri Dunia

Rajawali…

Setelah sekian lama kau bertahan dalam hasrat, semangat, perjuangan dan keuletan yang nan tak kunjung padam
Menyentuh para loper dengan cinta kasih
Memahami para loper dengan kebajikan dan melukis para loper dengan ketulusan, demi menebar benih-benih senyum dengan t’rus bercahya di setiap nafas para loper

Ah…,
betapa bangganya Dunia…
apalagi Penciptanya,
Rajawali, saatnya telah tiba
Ketika sayapmu menggapai senyuman bumi

Ah,
Betapa bahagianya dikau para loper…
Karena adakah bernama Loper’s Day, jika tanpa keberadaaan dan kehadiran seorang Laris Naibaho?
Happi Loper’s Day : 11 Maret 2005

(Doa dari Dunia)

Thursday, July 13, 2006

Majulah Terus Aji Purwoko

Majulah Terus Aji Purwoko

Siapa pun dirimu aku tidak pedul. Apakah Anda seorang pemimpin perusahaan, manager, atau apa pun jabatan yang biasanya melekat pada diri seorang yang menjadi karyawan. Tapi diriku menjadi sangat peduli untuk menganalisa dirimu, karena kau tekun mengerjakan tugasmu, dan terutama ketekunanmu dalam membina Loper yang kau yakini akan dapat menopang seluruh aktifitasmu.

Engkau bilang, bahwa tanpa Loper tugas mu akan menjadi sangat berat, dan karena itu, tiada hari dalam pikiranmu kecuali loper, loper dan loper.

Sering hatimu teriris tersayat jika engkau melihat loper yang sedang terkapar, dan apalagi jika dirimu tidak melakukan banyak hal karena terbatasnya kemampuan dan wewenangmu. Tapi tahukah kau…bahwa setiap titik yang ada dalam pikiranmu mengenai loper, sudah pasti tercatat di Sorga. Jadi majulah terus…karena ada tersurat, “Berbahagialah orang yang tulus hatinya, karena kelak akan melihat Tuhan...” ***

Petinggi Baru The Jakarta Post

Agung Adi Prasetyo, Wakil CEO Kelompok Kompas Gramedia, kini menduduki salah satu kursi komisaris di PT Bina Media Tenggara, penerbit The Jakarta Post.

Informasi yang terbilang cukup menggembirakan di kalangan agen media cetak, masuknya Agung Adi Prasetyo, akan membawa angin segar, khususnya bagi kalangan sirkulasi. Hasil pengamatan banyak orang, selama ini jajaran The Jakara Post buayan mimpi, yang barangkali karena tidak ada saingan media sejenis di nusantara, mereka menjadi terlena.

Berita lain menyebutkan, Daniel Rembeth yang ditunjuk sebagai Direktur Executive, akan menggelar pertemuan dengan jaringannya, khususnya dengan kalangan Agen, untuk menyampaikan visi dan misinya 5 tahun ke depan. Menurut salah seorang stafnya, Daniel akan mengusahakan peningkatan pembaca, termasuk mendorong kalangan siswa SMA dan mahasiswa, untuk meningkatkan penggunaan bahasa Inggeris dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itulah, saat ini, para ME The Jakarta Post gencar melakukan kontak dengan para agen dan jajarannya, agar dalam program nanti, hubungan saling pengaruh akan tercipta, sehingga satu sama lain menjadi saling memahami untuk mencapai tujuan.
***

Daniel Rembeth (far right), executive dirctor of PT Bina Media Tenggara which publishes The Jakarta Post, poses with shareholders and members of the board after a shareholders meeting Tuesday. From right to left are share­holder Mahtum Mastoem of PT Grafiti Pers, board members Jusuf Wanandi, Sabam Siagian and Fikri Jufri, share­holder Sofyan Wanandi of PT Anugrah Surya Gama, shareholders Harmoko, Agung Adiprasetyo of PT Grarnedia (chief commissioner), HarjokoTrisnadi of PT Grafiti Pers and Sasongko Soedarjo of PT Sinar Kasih; chief editor Endy M. Bayuni, board member Cherly P San­tasa, Ati Nurbaiti of the Bina Media Sejahtera Foundation and general manager finance and administration A. BambangTrisno. S.

Wednesday, July 12, 2006

Susunan Panitia Loper 10 K Terbentuk


Panitia Lari Gembira Loper 10 K terbentuk

PENASEHAT : Agum Gumelar (Ketua KONI)

: Sugeng Hari Santoso

: Tarman Azzam(Ketua PWI Pusat)

: Kamsul Hasan (Ketua PWI Jaya)

: Ian Situmorang ( Tehnis )
:Hinca Panjaitan, SH MH
: Arswendo Atmowiloto (Pembantu Umum)

Ketua Umum : Laris Naibaho
KaHumas : Dedy Pristiwanto
Anggota : Liston Simarmata, Sahala Hutagalung, Fahmi Siregar, Budi Purnomo, Rudi Sinaga

Ketua Pelaksana : Dedik Supardiono
Sekretaris : 1. Dicky EA, 2. Arnold Hutapea

Bendahara : 1. Chamdani, 2. Dipadilaga
Sie Acara : Ali Sadikin

Sie Keamanan : Jafar Irham
Sie Dana : 1.Zulkifli Lubis, 2.Rosa

3. Franklin Richard A. Matulessy
Sie Mobilisasi Loper : Sirkulasi Kompas
Sie P3K / Medis : Ihsan

Friday, July 07, 2006

GM BOLA Yan Situmorang : Siap Sukseskan Acara Loper Fun Run 10 K


GM BOLA Yan Situmorang : Siap Sukseskan Acara Loper Fun Run 10 K

Rencana menggelar Lari Gembira Loper 21 Agustus 2006 nanti, ternyata tidak hanya mendapat respon dari bagian sirkulasi media cetak. Kini, bagian redaksi juga ikut antusias bahkan akan terlibat langsung untuk menjadi pelaksana, agar acara nanti berlangsung meriah dan sukses. “ Saya bersedia mensupervisi acaranya, dan saya pikir acara seperti ini, harus konsisten dilaksanakan setiap tahun, agar para loper tercinta bisa menikmati hari libur,” ujarnya kepada Laris Naibaho dan Arnold Hutapea yang diundang khusus ke Gedung Bola, Jumat, 7 Juli 2006.

Menurutnya, kendati waktunya sudah demikian singkat, tetapi kalau semua organ yang ada di penerbitan memberi hati dan pikirannya, semua akan berjalan sukses. “ Kami memang tidak berpengalaman sebagai Even Organizer. Tetapi hubungan dengan berbagai EO yang bisa melaksanakan perehelatan ini, sangat banyak yang mampu, asalkan kita memberi dukungan yang maksimal,” katanya tanpa ragu.

***
Agum Gumelar : Akan kibarkan bendera Start Loper Fun Run

Dalam pertemuan dengan pengurus YLI, Jumat 7 Juli 2006, Agum Gumelar, menyatakan sangat bahagia jika diminta mengibarkan bendera start di Loper Fun Run, 21 Agustus 2006 nanti. “O, saya sudah banyak ikuti acara-acara. Tetapi ini akan sangat luar biasa, karena saya akan bersama-sama dengan laskar media, yaitu para Loper,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu juga dia menyampaikan terima kasih atas pemberian CD yang berisi Mars Loper. “Saya sangat terharu mendengar Mars Loper . Menurut saya, sudah seharusnya para loper ini mendapat tempat di hati para pelaksana daerah ini. Mereka perlu dibina dan diberi ruang tertentu, agar mereka bisa melaksanakan tugasnya dengan nyaman dan aman,” tambahnya.

Thursday, July 06, 2006

Agen Terdidik, Penerbit Maju

INOVASI ATAU MATI

Inovasi atau mati. Dan mengikuti arus kemajuan di berbagai aspek kehidupan tentulah sebuah kebijakan yang bijaksana, khsusnya mereka yang bergelut di bisnis. Penggunaan tehnologi,bukanlah sekedar pemanis hidup, tetapi memang dibutuhkan sebagai penyanggah agar tetap bisa nyaman menjalankan bisnis. Hal tersebut mendorong pengurus Yayasan Loper Indonesia, di Jalan Barkah No.49, Juni 2006 lalu, memberikan pelatihan cara membuat blog di internet melalui jasa baik Pemimpin Perusahaan Genie, Budi Purnomo.

Memang tidak mudah memasukkan tehnologi kepada para Agen yang sebagian diantaranya gagap tehnologi atau gatek. Tetapi semangat mereka untuk mengetahui dan jika mungkin mengimplementasikannya dalam dunia keagenan untuk mengikuti zaman, haruslah diacungi jempol. "Saya menyadari sangat tertinggal. Dan saya kira pelatihan ini membuka mata saya, yang siapa tahu generasi pengganti saya bisa menggunakannya," ujar Franz Tanti Darma, Pimpinan Dian200 Agency. Jadi inovasi atau mati?

ME The Jakarta Post, Toni Napitupulu, Siap Bantu Menyukseskan Loper Fun Run 10 K


ME The Jakarta Post, Toni Napitupulu, Siap Bantu Menyukseskan Loper Fun Run 10 K

Gayung bersambut dari kalangan sirkulasi penerbit pers Indonesia untuk mendukung terselenggaranya Lari Gembira Loper 10 K yang rencananya akan digelar 21 Agustus 2006 nanti.

Toni Napitupulu salah seorang ME The Jakarta Post datang langsung ke markas pembantu Yayasan Loper Indonesia, Jl.Barkah No.49, Kamis, 6 Juli 2006. “Dengan segenap hati dan jiwa , saya akan datang membantu tanpa syarat,” ujarnya polos, seperti kepolosannya saat membantu terselenggaranya Loper’s Day, 11 Maret 2005 lalu.

Wednesday, July 05, 2006

Halo Jaya Suprana, Agen masih ada, lho!


Halo Jaya Suprana, Agen masih ada, lho!

Umumnya penerbit berharap mitranya Agen, menjalankan tugasnya secara professional; mengirim, menagih, dan menambah jumlah langganan, termasuk diantaranya bagaimana melayani langganan, agar tercipta loyalitas dari Langganan.

Maka dulu, tidak kurang seorang Jaya Suprana dihadirkan KOMPAS untuk memberi dorongan melalui pengetahuannya di bidang pemasran yang demikian luas, yang sangat luas, dengan maksud para Agen terus bangkit jiwanya mengelola keagenan.

Tapi kini, disituasi psikologis Agen yang “maju kena, mundur kena” karena demikian sulitnya mempertahankan keagenan, umumnya penerbit, masing-masing hanya berpikir bagaimana menyelematkan penerbitannya, yang padahal untuk bisa tetap selamat, mau tidak mau para Agen harus lebih dulu diselamatkan. Bukan begitu?

Pengawas YLI Ali Sadikin, Himbau Awak Sirkulasi Dukung Loper Fun Run


Pengawas YLI Ali Sadikin, Himbau Awak Sirkulasi Dukung Loper Fun Run

Ali Sadikin, salah seorang dari pengawas Yayasan Loper Indonesia (YLI), Rabu, 5 Juli 2006, mengatakan, rencana YLI menggelar Loper Fun Run 10 K atau Lari Gembira Loper 10 K yang akan berkerjasama dengan KONI merupakan hal positip dan sepatutnya didukung oleh seluruh awak sirkulasi dan pengusaha pers Indonesia.

Menurutnya, 365 hari dalam setahun loper nyaris tidak mengenal hari libur, kecuali libur nasional. “Saya sangat berempati dengan kehidupan para Loper, dan kalau ada ajang seperti ini yang memanfaatkan hari Libur Nasional untuk memberi sedikit kegembiraan dan kepedulian terhadap loper adalah sesuatu yang baik. Dan karena itu, apa pun yang ditugaskan YLI kepada saya untuk menyukseskan acara ini, saya siap,” ujarnya dengan wajah serius.

Dalam pertemuannya dengan KU YLI Laris Naibaho, dia menegaskan, tidak perlu berpikir setengah-setengah mendukung kegiatan loper, karena mereka adalah bagian dari tubuh industri pers. “Saya percaya, Penerbit yang peduli terhadap loper akan menggapai sukses,”ujarnya tanpa ragu

Bincang Canda Imajiner Dengan Sangguru


Buku hasil karya Laris Naibaho, yang bergaya satire ini, mendapat perhatian yang luas dari kalangan pers. Beberapa suratkabar di antaranya Warta Kota, dan selama dua hari dikupas di INDOPOS, memang menimbulkan pertanyaan panjang bagi pembacanya. Dan sebagian dari ribuan pembaca masih juga bertanya, apakah wawancara yang ada di buku ini sungguh-sungguh imajiner atau sang penulis benar-benars bertemu dengan sangguru yang ditokohkan di sana.

Jawaban terhadap pertanyaan ini memang sangat diperlukan. Tetapi bukanlah hal yang terpenting, melainkan apakah setelah membaca, pembacanya akan menyadari, dan lalu berpikir untuk bertindak sesuai dengan tujuan dari penulisan buku ini?

Buku Bincang Canda Imajiner dengan Sang Guru dicari-cari di tokoh buku, tetapi tak ada, karena hanya dicetak terbatas dan hanya ditujukan kepada pemerhati pers dan mereka yang bekerjadi industri pers Indonesia. Namun, jika Anda membutuhkan tidak salah mencarinya ke [BukuBookz!]--Garasi Media Cetak Kelompok Kompas Gramedia terdekat, atau atau telepon langsung ke : 829 9650, 8305208, 8314734 atau sms ke 0811 918 901.

Tuesday, July 04, 2006

Metro 24 Jam : YLI Gelar Loper 10 K

WARTA KOTA, SELASA, 27 JUNI 2006
YLI Gelar Loper 10K
Senayan, Warta Kota
Para loper yang tergabung dalam Yayasan Loper Indonesia (YLI) akan menggelar lomba lari 10 km. Mereka pun meminta bantuan dan dukungan KONI untuk lancarmya kegiatan itu.
Laris Naibaho, Ketua Umum YLI. mengatakan. lomba yang akan digelar Agustus 2006 nanti di­maksudkan untuk ajang ber­kumpulnya para tukang koran dan masvaraxat. "Selama ini ke­beradaan tukang Koran di Indo­nesia masih dipandang sebelah mata." katanya usai bertemu Ke­tua Umum KONI Agum Gumelar. Senin (26/6).
Meski hanva bekerja seba­gai tukang koran, katanya, mereka juga bisa berbuat se­suatu yang membanggakan untuk masyarakat.
Sementara itu, Agum Gumelar me­nyambut baik dan mengaj ak YLI untuk bertemu di kediam­
annya agar dapat membahas rencana ini dengan matang. Saya juga senang dengan ke­hadiran bapak-bapak YLI. Ini berarti teman saya bertam­bah," ujar pemilik moto "teman seribu masih kurang musuh satu terlalu banyak".
Dalam kesempatan itu, YLI memberi sebuah kenang-ke­nangan kepada Agum berupa­ coinpact disc berisi Mars Loper Indonesia. (m2)

Lopertika: Pungguk Merindukan Bulan

PUNGGUK MERINDUKAN BULAN
Oleh Laris Naibaho

Siapa yg tidak mengakui bahwa wartawan memiliki tempat khusus di masyarakat?
Kekhususan ini, tentu bukan karena dia adalah seorang yang kaya raya, atau memiliki jimat setinggi ajimat pancasona yg bisa meluluh lantakkan gunung batu.Tetapi boleh jadi kekhususan ini, oleh karena Wartawan dianggap sebagai tempat curahan hati, jika mengadu ke legislatip, ke judikatip, atau eksekutip tidak mempan. Maka Dalam Four Theory of The Press-nya, Profesor Siebert sampai mengatakan, Pers adalah organ ke empat, yang "Jauh lebih tinggi" dari 3 alat yg ain.
Ini memang benar adanya. Karena kalau tidak benar, tidak mungkin seorang calon Presiden harus lebih dulu soan (berkunjung) ke big bos penerbitan Pers, karena kalau tidak, maka urusan bisa jadi mandeg di tengah jalan. Mengapa? Sebab, setajam-tajamnya pisau, pastilah lebih tajam pisaunya pers, karena dia akan bisa mempengaruhi opini publik.
***
Karena itulah, bergaul dengan wartawan seharusnya sedap. Apalagi pergaulan tersebut diikat pula dengan hubungan yang bila serang-­sering buka buku biologi disebut sebagai "Simbiose Mutualisme"
Tapi siapa menyangka, mesin yg sehari-hari mengolek uang dari pembaca yg dalam Anggaran Dasar Yayasan Loper Indonesia (YLI) disebut Loper bisa jadi luput dari perhatian wartawan. Maka kalau loper dikejar-kejar oleh trantib, ditelanjangi, bahkan mungkin diberangus kehidupannya dari jalan-jalan, tidak menjadi persoalan baginya. Bahkan jangan-jangan enggan untuk memberitakannya, karena dianggap tidak memiliki nilai berita. Padahal, wartawan begitu perkasa untuk membuka borok KPU, bisa menelanjangi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, atau menggiring para bankir masuk bui.
Beruntung ada Yayasan Loper Indonesia yg dideklarasikan di sebuah tempat bersejarah, Istora Senayan 11 Maret 2005 yg lalu. Senyum dan tawa bergema di sana, karena konon, Yayasan ini
akan berjuang untuk memberi perlindungan kepada para loper, yg paling minimal adalah proteksi rawat inap,dan syukur-syukur juga perlindungan hukum dan lain-lain yg sehingga pekerjaan ini menarik bagi pencari pekerjaan.
Saat itu, mungkin sebagian besar atau bahkan seluruh loper yg hadir, juga para agen yg mendampinginya menaruh harapan yg dalam kepada YLI, yg kendati pekerjaan Loper tidak memberi harapan untuk bisa mendapatkan rumah, mobil dan apalagilah yg semacam itu, tapi jika proteksi ada, tentu jadi loper masih bisa memberi memberi kenyamanan.
Tetapi "Binatang" apakah YLI ini. Mampukah dia mengemban tugasnya? Jangan-jangan dia akan mati sebelum sempat lahir? Siapakah yg bertanggungjawab? Dan kalau dia mati, ke manakah Loper harus mengadu, atau milik siapakah para loper ini? Atau mungkinkah perlindungan kepada loper secara formal hanya sebuah utopia? Atau haruskah loper itu hanya pantas untuk dikasihani? Soalnya, tidak semua petinggi Pers di negeri ini yang peduli terhadap loper. Buktinya ada yang menolak mentah-mentah, ketika diminta untuk menjadi Pembina YLI. Bahkan untuk berbincang ria tentang nasib loper dia tidak sempat. Ibarat judul filmnya alm.Bing Slamet :" Saya sedang sibuk." Maka, kendati anggapan ini apriori, "Loper Merindukan
Bulan."
Menjadi benar adanya. Hidup Pers Indonesia
***

Demokrasi, Demokrasi Bohong


Demokrasi, Demokrasi Bohong
Oleh Laris Naibaho
PARTO, bergegas menemui Pak Sukri, kakeknya. Tanpa basa­basi lagi, langsung mengoceh tentang pengalamannya
selama sehari penuh mengitari Jakarta. Pertama, ia bercerita tentang dua pemuda yang duduk ber­dampingan di metromini yang hampir adu pisik, hanya karena asap rokok. Pemuda yang satu menegur, agar toleransi kepa­danya yang tidak merokok. Se­mentara si perokok dengan en­teng meminta, penegur bisa bertolerensi kepadanya yang sedang menikmati rokoknya.
BEBERAPA ratus meter dari pintu tol, metromini terpaksa berhenti. Tak bisa lewat, kare­na ribuan orang sedang berun­juk rasa ke salah satu departe­men produk Orde Reformasi. Suara-suara lantang, memekik­kan agar pemerintah memper­hatikan nasib para karyawan yang berkaitan dengan tugas pelayanan masyarakat.
Salah seorang penumpang yang sangat khawatir akan telat di kampus dan tidak bisa meng­ikuti ujian, turun dan berteriak. "Kalian bo!eh-boleh saja unjuk rasa. Tetapi, tertib dong! Ja­ngan semau gue dan mengham­bat aktivitas orang lain yang ti­dak ikut berunjuk rasa".
Salah seorang pengunjuk ra­sa, menyambut, "Jalan tol ini adalah milik negara. Berarti milik rakyat. Kami adalah raky­at. Berarti kami adalah pemi­liknya. Karena pemilik, maka kami bebas menggunakannya. Hidup rakyat..., hidup rakyat," teriaknya sambil mengepalkan tangan yang diikuti para pen­gunjuk rasa yang lain.
TIBA di depan salah satu mal dekat stasiun, di sana petugas bentrok dengan pedagang kaki lima yang berbaur dengan para supir bajaj. Petugas menjalan­kan perintah, dan semua itu mereka lakukan agar semua tertib dan berjalan lancar. Te­tapi para pedagang tetap ngotot bahwa mereka berhak mencari nafkah di atas trotoar, untuk mengasapi dapur, dan menye­kolahkan anak. Toh, menurut mereka, trotoar tersebut ada­lah warisan nenek moyang me­reka. Dan, yaitu, mereka bersi­keras, agar mereka tetap bisa berjalan.
"SUDAH, sudah. Ndak usah diterusin," potong Pak Sukri, melihat bibir Parto yang masih ingin nyerocos, menambah laporan perjalanannya.
Lalu pikiran Pak Sukri me­nerawang. Dia bayangan diri­nya berada pada tiga kejadian yang disampaikan Parto. Tanpa sadar bibirnya melontarkan kata, "Inikah yang dimaksud dengan euforia demokrasi ?" tanya Pak Sukri kepada dirinya sendiri.
Parto mengira, pertanyaan itu ditujukan padanya. "Eufo­ria demokrasi, apa artinya itu, Kek?"
Pak Sukri gelagapan. Karena memang tak menyadarinya. Ya, tidak siap menjawab. Tetapi, agar tetap tampak berwibawa di mata Parto, ia menjawab juga. "Euforia itu adalah suasa­na pikiran manusia yang ma­buk kepayang karena senang. Jadi eforia demokrasi, yah, suasana yang mabuk kepayang menggunakan demokrasi. Sam­pai demokrasi itu bisa bergeser dari pengertian dan tujuan­nya".
"Maksud, Kakek?"
"Ya, semua orang berhak dan bebas menyampaikan penda­patnya. Itulah demokrasi. Teta­pi, jika dengan dalih demokrasi semua orang menjadi bebas se­bebas-bebasnya, maka akan terjadi anarkhi".
"Jadi harusnya, bagaima­na?"
"Ya, demokrasi tanpa hu­kum, sama saja bohong," ujar Pak Sukri, sambil ngeloyor, tan­pa menghiraukan lagi cucunya, yang seakan masih ingin tahu lebih banyak tentang demok­rasi.
***
(dimuat di HU SANG SAKA, SABTU 15 APRIL 2000.)

Agen Koran Diadili

Bandarlampung, Antara

Para agen dan pengecer surat kabar serta majalah di Lampung dan Jakarta merasa khawatir. Menyusul pengadilan atas se­orang agen di Bandarlampung dengan dakwaan menyebarlu­askan sebuah majalah berbau pornografi.

Muha Setiawan, pemilik se­buah agen surat kabar dari Ja­karta. di Bandarlampung, Rabu mengatakan. sejak ada berita pengadilan atas MP Simorang­kir seorang agen koran di Peng­adilan Negeri (PN) Tanjungka­rang karena menjual majalah FENOMENA vang dinilai berbau pornografi, para agen koran me­rasa khawatir hal serupa me­nimpa mereka.

Muha bersama sejumlah peng­urus Asosiasi Agen Media Cetak Indonesia (AAMCI) berkunjung ke PWI Cabang Lampung ber­kaitan dengan pengadilan yang sedang berlangsung tersebut. MP Simorangkir, yang meng­edarkan rnajalah FENOMENA edisi No 065 dan didakwa pasal 282 KUHP yang isinya mem­pertontonkan gambar yang me­langgar kesopanan. Majalah Fenomena memiliki SIUPP No 1183/SK/SIIPP/ Menpen/1999.

Menurut Muha Setiawan, sejak menda­pat kabar itu hampir seluruh agen maupun pengecer media cetak di Jakarta diliputi keta­kutan, khawatir dituduh juga sebagai pengedar gambar yang melanggar kesopanan.

"Meski keberadaan majalah itu sah secara hukum, tapi kami tetap khawatir, sewaktu-waktu aparat bisa menangkap agen atau pengecer karena ketahuan sedang mengedarkan media ce­tak yang dinilai melanggar ke­sopanan. * KOMPAS, KAMIS, 14 OKTOBER 1999

Kunjungan Manajer Promosi Republika ke Agen



Ada yang datang, ada yang pergi. Yang pergi bisa lupa, atau kalaupun mengingat paling-paling bergumam dalam hati, "Emang gue pikirin...." Tidak apa-apa, to be or not to be, the show must go on.
Yang pergi tidak selalu lebih baik. Yang datang kemudian, bukan berarti tidak mengerti apa-apa. Usia boleh seumur jagung, tapi wanginya bak bau harumnya kencur yang bisa merebak ke mana-mana. "Wangi bok...!"
Begitulah, hari ini, Selasa, 4 Juli 2006, Manajer Promosi Republika, Ir. Imam, MM, bertandang ke markas Agen, Friendship Services, Jl.Barkah No.49, Jakarta, yang kini didisain menjadi [BukuBookz]!. Katanya sih, tanpa pemahaman yang pekat terhadap Agen dan lopernya, sangat sulit untuk mengubah citra pelayanan kepada pelanggan dan calon pelanggan. Dia juga sangat yakin, treatment khusus kepada Agen dan Loper adalah hal terpenting. "Saya akan berusaha sebaik mungkin agar Agen dan Loper mendapat tempat di hati semua pihak," ujarnya sambil senyum, ditimpali tawa renyah Manajer Sirkulasi Dedik Supardiono.

Monday, June 26, 2006

YLI jalin Kerjasama dengan KONI


Dari kiri ke kanan : Sugeng Hari Santoso, Pembina YLI, Sumohadi Marsis, pengurus KONI, Dicky EA, Agum Gumelar, Laris Naibaho, Arnold Hutapea, Liston Simarmata. Pose bersama, pada saat kunjungan kerja YLI ke KONI dalam rangka Loper Lari Gembira.

Agum Gumelar salut pada Agen dan Loper


Liston Simarmata, salah seorang aktifis Yayasan Loper Indonesia(YLI) berpose bersama Ketua Umum KONI Pusat, Agum Gumelar, saat kunjungan kerja YLI ke KONI, Senin, 26 Juni 2006 di Gedung KONI Pusat, Senayan Jakarta.
Dalam Pertemuan yang penuh senyum dan akrab tersebut, Agum Gumelar menyampaikan, bahwa bangga melihat masyarakat yang berjuang untuk menghidupi diri dan keluarga dengan cara yang halal. "Saya salut melihat perjuangan para Agen media cetak, dan terutama lopernya," ujar Agum sambil menyalami Liston, yang terharu biru mendengar ucapan Agum.

Kunjungan Pengurus YLI ke KONI Pusat


Ketua Umum KONI Pusat, Agum Gumelar didampingi Sumohadi Marsis, menerima kunjungan kerja Pengurus Yayasan Loper Indonesia(YLI), Ketua Umum, Laris Naibaho, dan Sekretaris, Senin, 26 Juni 2006 di Gedung KONI Pusat, Senayan, Jakarta.
Dalam kunjungan tersebut dibicarakan progaram kerjasama untuk memberdayakan para Loper, dan dalam waktu dekat direncanakan mengadakan Loper 10 K, atau disebut juga dengan Lari Gembira Loper Jakarta.

Pembina YLI serahkan CD Mars Loper


Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia(KONI) Pusat, Agum Gumelar, menerima CD Mars Loper dari Pembina Yayasan Loper Indonesia(YLI) Sugeng Hari Santoso, Senin, 26 Juni 2006 pukul 12.25 di Gedung KONI, Senayan, Jakarta.

Reward Or Punishment


Reward or Punishment



Ketika prestasi terukir, dan di saat siapa membutuhkan siapa, maka hadiah, pujian dan segala sesuatu yang membuat hati dan badan menjadi lebih akrab, lebih loyal,yang salah satu diantaranya, hadiah anjang sana ke luar batas Negara. Dan inilah kami yang berfoto ria di lobby Gedung Utama, suratkabar Strait Times, Singapura, yang megah dan ramah lingkungan : Darmawan Soecipto, Andiyani, Muha Setiawan, Laris Naibaho,Sohir, Dharmo Laksono.

DESAS-DESUS

Terbit Harian
Sebuah tabloid bersegmen ekonomi yang selama ini terbit mingguan akan terbit harian. Pembicaraan seputar harian tersebut kini sangat ramai khususnya di kalangan Agen Langganan.
Dari pemantauan Buletin Agen (BA) para Agen Langganan sangat antusias dan menyambut hangat tabloid ini berubah dari mingguan menjadi harian. Pasalnya, ini bermula dari kebijakan dari sebuah penerbit harian Ekonomi yang akan memangkas jalur distribusi atau jalur keagenan yang menurut mereka tidak berkembang.
Adapun kebijakan yang membuat para Agen Langganan ini gerah adalah kebijakan dari penerbit yang bersangkutan, bahwa akan menstop pengiriman jika jumlah minimum order yang mereka tetapkan tidak terpenuhi, yang pada hal banyak juga kalangan agen tersebut yang sudah menjadi agen sejak suratkabar tersebut terbit.
***
EKSODUS
Nyawa sebuah media, memang sangat tergantung kepada iklan. Seberapa besar pun tiras, jika tidak didukung oleh iklan, maka cepat atau lambat media tersebut akan ngos-ngosan lalu mati.
Kabar yang santer sampai pertengahan Juni 2006 ini, adanya eksodus bagian sirkulasi sebuah suratkabar yang berpindah secara tersebar ke berbagai media, karena khawatir suratkabar tersebut tidak lagi mampu untuk bertahan ditengah dasyatnya pertempuran penerbit memperebutkan pasar.
Menurut sebuah sumber, kehawatiran para awak sirkulasi ini, dimulai dari peristiwa di mana beberapa awak redaksi sudah lebih dulu hengkang, dan kini menempati posisi-posisi strategis di penerbitan yang mereka tuju.
***
HARGA NAIK
TAK tahan untuk mensubsidi terus-menerus, sebuah harian metro yang sudah ketar-ketir dengan kemajuan suratkabar sejenis yang menjadi kompetitornya, akan segera menaikkan harga jual kepada agen dengan harapan, selisih dari kenaikan tersebut dapat digunakan untuk perbaikan distribusi yang sudah lama dikeluhkan oleh para Agen, karena pengiriman yang lebih sering terlambat.
Suratkabar yang di kalangan Agen ini mendapat julukan,”Kalau tidak terlambat pasti ada apa-apanya….”
***
DEMO SIMPATIK
Tersiar kabar, ada puluhan Agen yang akan mendatangi penerbit yang mengeluarkan kebijakan yang sungguh-sungguh menyakitkan.
Kebijakan yang dimaksud ialah, ketentuan jumlah pesanan, yang jika tidak sesuai dengan yang digariskan oleh penerbit maka pengiriman akan dihentikan.
Menurut sumber dari penerbit tersebut, ini mereka lakukan untuk memangkas biaya yang tidak sepadan dengan jumlah order dari para Agen yang sangat kecil menurut ukuran mereka.
Keluhan yang akan disampaikan oleh para Agen adalah, bahwa mereka pada dasarnya ingin mengembangkan jumlah langganan.Tapi pasar tidak merespon, yang pada hal, mereka selama ini ada yang sudah jadi Agen sejak suratkabar tersebut terbit. “Mana keadilan?” itu kira-kira tulisan yang akan tertera dispanduk yang akan mereka kibarkan di depan kantor penerbitan yang bersangkutan.


Sunday, June 25, 2006

LOPERTIKA


SIAPA BERJUANG UNTUK SIAPA
Oleh Laris Naibaho

Marsinah boleh jadi sedang tersenyum manis dari liang lahat sana. Karena kendati kepergiaannya “dipercepat”, tapi paling tidak hasil kerjanya, atau jejak langkahnya masih diteruskan oleh rekan-rekannya yang setia memperjuangkan nasib buruh.
Jadi mereka yang statusnya buruh berbahagialah, karena betapapun penghasilan seorang buruh masih tetap belum memadai untuk meng-asap-i dapur, dan apalagi untuk menyekolahkan anak, paling tidak, masyarakat dan negara telah mengakui keberadaan buruh.
Lihat saja, ada Undang-Undang Perburuhan yang mengatur keberadaan buruh. Dan jika buruh merasa atau mengalami hal-hal yang merugikan dirinya, dia bisa berlari ke lembaga-lembaga perburuhan, semisal Serikat Buruh Seluruh Indonesia(SBSI)atau Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), dan ada banyak lembaga bantuan hukum yang standby untuk membantu, karena itu tadi, buruh jelas keberadaannya, meskipun kenyataannya, buruh sering menjadi bahan eksploatasi oleh mereka yang mengaku sebagai wakil buruh.
***
Kalau saja founding father’s negeri ini, dulunya sudah mengenal loper, tentu pasal-pasal di UUD ‘45 barangkali akan memuat salah satu butir yang memuat tentang keberadaan loper dan perlindungan terhadapnya. Soalnya, seorang penyair terkemuka, Taufik Ismail memberi judul untuk puisinya : “Loper adalah bagian dari tubuh bangsa.”
Taruhlah bunyi pasal tersebut seperti ini :

“Setiap Industri Pers, yang mengkaryakan seseorang ,yang selanjutnya disebut
loper, wajib memberi perlindungan terhadapnya berupa kesejahteraan, termasuk di
dalamnya proteksi kesehatan, pendidikan dan kenyamanan lainnya, di mana setiap
kelalaian terhadap hal tersebut, perusahaan yang bersangkutan dapat dicabut izin
usahanya.”

Atau memang Founding Father’s memang tidak membuatnya secara rinci, tapi meminta setiap warga Negara meminta memahami :“Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia”, yang sehingga, apabila sebuah industri pers maju, loper seharusnya tidak lagi merana.
***
Jadi 61 tahun sudah Indonesia merdeka, ada banyak penerbit pers yang malang-melintang di negeri ini. Insan yang lahir di sana, juga banyak yang hebat-hebat yang duduk di legislatip, bahkan di eksekutip, pun pengusaha pers, yang sukses tidak terbilang jumlahnya. Tapi adakah pikiran mereka pernah berwisata kepada kehidupan loper yang masih tetap begitu-betitu?
Padahal kalaulah kita mau mengakui, begitu banyak orang sukses di negeri ini yang “disukseskan” oleh para pengusaha pers, termasuk diantaranya untuk bisa jadi Presiden. Soalnya, hehehe…istilah ini bukan barang baru, “ Who the Press behind Presiden”. Sederhananya, kalau ingin jadi Presiden pastilah harus lebih dulu sungkem ke pengusaha pers. Dan kalau demikian halnya, begitu sulitkah menaikkan “martabat” loper, agar kelak, profesi ini menjadi salah satu tujuan bagi mereka yang mencari pekerjaan?
Akan atau tidak akan, pertanyaan ini, akan terus dan terus, dan pada akhirnya, pertanyaan seorang Arnold Hutapea menjadi menderu lengket di kepala, “Di era siapakah loper itu akan mendapat perhatian yang paripurna?”
***
(Hidup SPS. Hidup PWI. Hidup FOSPI. Hidup AJI.Hidup Asosiasi Agen Media Cetak Indonesia. Hidup Koperasi MMS. Hidup Kelompok 12Plus. Hidup Cplus. Hidup Aliansi Agen Bersatu)
(Tersenyumlah loper.)
***
larisnaibaho@hotmail.com

Mati Ketawa Ala Loper

Bisanya Beli Koran Murah

Suatu siang, mendengar berita di radio tentang sebuah kejadian yang sangat tragis, seorang ayah meyuruh anak bontotnya membeli Koran, dengan maksud untuk mengetahui seperti apa kejadian tersebut dimuat disuratkabar. Sang ayah tahu, bila beli Koran agak siang, harganya bisa turun hingga 75%.
“Nih, kamu beli Koran ke lapak,” suruh sang ayah.
“Lho, kok Cuma seribu rupiah,bukankah harganya Rp 2.500?”
“Sudah sana berangkat, kalau siang gini, semua Koran juga paling mahal segitu…,” perintah sang ayah lebih tegas lagi.
Si anak pergi, dengan benak kosong tak mengerti. Maklum usianya baru 7 thaun.
Tidak lama, si anak balik dengan tangan hampa.
“Mana Korannya?”
“Si Abang Koran tidak memberi,” jawab si anak.
“Lho, mengapa?”
“kata si Abang sambil marah-marah, kalau harga Koran seribu, dia mau beli 100 eksemplar tiap hari dari ayah…”
Sang ayah terperangah. Marah. Tapi tiba-tiba ada rasa malu dalam dirinya. Haaaaa, aku bisanya hanya beli koran murah?
***
Loper Iseng…!

Saya tertarik untuk membeli suratkabar KOMPAS yang ditawarkan seorang loper di terminal KA Depok dengan harga yang menurut saya fantastis.
Loper : “gopek, gopek, gopek, gopek, gopek.”
Aku : “Bang beli 1 eksemplar. Kok murah amat iya,” kataku sambil menyodorkak uang gopekan (uang lima ratus rupiah)
Loper : “ Lho, kok 500 ratus?”
Aku : “Bah, kamu yang bilang 500, kan?”
Loper : “ Betul. Tapi aku bilang, gopek, gopek, gopek, gopek, gopek. Hitung aja. Aku bilang lima kali. Jadi kalikan saja.”
Aku : ( Dalam hati aku menggumam, biasanya aku yang ngerjain orang. Kini aku yang dikerjain. Bah. Loper memang beda dari tukang martabak. Loper cerdas-cerdas, karena bisa belajar tanpa mengeluarkan biaya.)
***

Monday, June 05, 2006

Loper Koran Perlu Diberdayakan

Para loper koran, majalah, dan tabloid, kini boleh berbangga hati. Keberadaan mereka saat ini ditaungi secara resmi oleh sebuah yayasan yang menamakan dirinya Yayasan Loper Indonesia (YLI). Yayasan ini secara khusus bergerak mengemban misi kesejahteraan, pembinaan, dan pemberdayaan para loper.

Menurut ketua penyelenggara Loper's Day, Laris Naibaho, sebagai ujung tombak industri pers, keberadaan loper ini seringkali termarjinalkan. Karena itu, YLI bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para loper. Termasuk mengupayakan adanya jaminan bagi penghidupan para loper di bidang kesehatan, pendidikan. YLI juga akan melakukan pembinaan, dan pemberdayaan para loper koran sehingga bisa meningkatkan taraf hidupnya di masa yang akan datang.

Selain mengupayakan peningkatan kesejahteraan para loper, program jangka pendek YLI adalah berupaya meregistrasi sekitar lima ribu loper se-Jabodetabek. Data ini akan disusun untuk membuat database loper sehingga bisa mulai dikutsertakan dalam program asuransi. Pendeklarasian Yayasan Loper Indonesia akan dilakukan berbarengan dengan puncak perayaan Loper's Day, Jumat mendatang (11/3).

Selain perayaan Loper's Day, pendeklarasian YLI, juga akan diluncurkan situs khusus para loper di www.loper.or.id. Situs ini akan berisi informasi tentang para loper, dan juga berita. Para loper, dan masyarakat umum bisa mengakses informasi dari situs ini.

Sumber : Republika, 8 Maret 2005

Loper's Day akan digelar di Istora Senayan

Ratusan ribu pengantar koran (Loper) bakal memenuhi Istora Senayan pada 11 Maret untuk menghadiri deklarasi Yayasan Loper Indonesia.

Ketua Penyelenggara Loper's Day Laris Naibaho mengatakan yayasan ini akan didirikan bersama-sama oleh penerbit, tokoh agen, tokoh organisasi pers dan masyarakat peduli.

"Melalui acara ini kami berharap mendapat perhatian dari insan pers. Selama ini kami turut memberikan sumbangsih pada pengembangan dunia industri surat kabar. Namun kesejahteraan kami belum ada yang memikirkan," ujarnya hari ini.

Sumber : Bisnis Indonesia, 7 Maret 2005

Indonesia Punya Hari Loper

LOPER'S DAY - Ratusan loper koran se-DKI Jakarta, Jumat (11/3), mendatang akan mengadakan The Loper's Day 2005 di Istora Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta, dengan dihibur beberapa artis Ibukota.

Bagi loper, yakni pengantar, pengecer, dan pedagang koran di seluruh Indonesia, hari Jumat tanggal 11 Maret nanti merupakan hari yang paling berbahagia. Karena pada hari tersebut, akan dirayakan The Loper's Day 2005 atau Hari Loper 2005, yang penyelenggaraannya akan dilakukan secara besar-besaran di Istora Senayan, Jakarta.

Selain itu, pada saat yang sama juga akan dideklarasikan Yayasan Loper Indonesia (YLI), yakni lembaga yang mendapat otoritas dari penerbit dan agen dalam penyelenggaraan program kesejahteraan, pembinaan, dan pemberdayaan loper. Hal tersebut diungkapkan Ketua Panitia The Loper's Day 2005, Laris Naibaho dalam konferensi pers yang diadakan di gedung Suara Pembaruan, Senin (7/3).

Laris melanjutkan, hari loper merupakan hari cinta kasih untuk para loper seluas-luasnya. Gagasan untuk mencetuskan hari loper muncul karena ia menilai pekerjaan loper merupakan bagian terpenting dari sistem distribusi surat kabar.

Tanpa loper, menurutnya kepuasan pembaca tidak akan tercipta. "Dengan memberikan perhatian kepada para loper, mereka akan menjadi loper yang baik. Untuk itu, mari kita mengucapkan loperku sayang loperku manis, supaya mereka bekerja dengan manis," kata Laris.

Laris mengatakan, penyelenggaraan Hari Loper ini melibatkan seluruh penerbit yang ada di Indonesia. Pihaknya juga akan berusaha untuk membakukan tanggal 11 Maret nanti sebagai Hari Loper di Indonesia. Bahkan, ia pun berencana untuk menjadikan tanggal tersebut menjadi Hari Loper Sedunia.

"Walaupun Hari Loper ini lahir dari bumi pertiwi, tetapi kita akan berusaha mudah-mudahan akan dirayakan di seluruh dunia. Karena pada dasarnya di seluruh dunia ada loper, hanya namanya saja yang berbeda-beda," ungkap Laris.

Salah satu pendiri YLI, Rudy Sinaga mengungkapkan, alasan dibentuknya YLI adalah untuk membina dan mendidik para loper agar dapat hidup lebih baik. "YLI akan memberikan jaminan berupa asuransi kesehatan dan pendidikan. Jadi, walaupun berstatus loper, mereka tetap memiliki keahlian sesuai dengan minat mereka. Kita memberi pembinaan diluar pekerjaan mereka sebagai loper, salah satunya keahlian komputer," tutur Rudi.

Menurut Rudi, saat ini profesi loper tidak bisa dipandang sebelah mata. Walaupun masih berstatus informal, loper merupakan profesi yang sangat menjanjikan.

Ia melanjutkan, loper merupakan mata rantai paling ujung dalam pemasaran suratkabar. Ia pun mengusulkan agar sektor industri suratkabar dan agen tidak melupakan nasib para loper.
"Selama ini, mereka tidak pernah dipikirkan. Banyak dari mereka yang nasibnya belum baik. Padahal di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi saja jumlahnya mencapai 50.000 orang loper. Ini merupakan tugas semua pihak," lanjut Rudi.

Penyelenggaran hari loper nanti rencananya akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Selain itu, acara ini akan dihadiri oleh perwakilan loper, penerbit, insan pers, dan seluruh komponen masyarakat. Acara yang dimeriahkan oleh Ebiet G Ade, Joy dan Jelita Tobing, Geng Hijau, serta artis pendukung lainnya tersebut akan berlangsung dari pukul 12.00 hingga 18.00 WIB. (AAF/N-6)

Sumber : Suara Pembaruan

Melindungi Loper Koran Lewat Sebuah Yayasan

Pengantar koran atau yang dikenal sebagai loper, sebenarnya bukanlah pekerjaan alternatif, dalam arti baru dilakukan kalau tidak diterima bekerja di instansi atau pun perusahaan. Tetapi menjadi loper adalah suatu pekerjaan pilihan yang bisa dilakukan oleh siapa saja, tanpa dibatasi oleh status pendidikan dan usia.

Menurut Laris Naibaho, salah seorang agen besar koran dan majalah, pekerjaan apa pun jika dilakukan tanpa rasa malu, pasti akan membuahkan hasil. Karena, menjadi loper bukan hanya sekAdar menyodorkan tangan mengharap belas kasihan dari orang lain, tetapi membutuhkan kejelian dan kegigihan seseorang untuk dapat menjual koran atau majalah yang dibawanya.

Dari hasil penjualan koran dan majalah itu, loper mempunyai uang yang bisa dipakai untuk membelanjakan berbagai keperluannya. ”Mau jadi loper itu mudah, tidak perlu buat lamaran pekerjaan, menunggu keputusan kapan mulai bekerja dan lain-lain. Cukup datang dan berbekal niat serta kemauan untuk menjadi loper, sudah cukup menjadi prasyarat bagi seseorang yang ingin menjadi loper. Kuncinya hanya satu tidak malu, setiap orang pasti bisa,” papar pemilik agen Frienship itu.

Tetapi untuk era sekarang, khususnya di kota besar seperti Jakarta, menjadi loper bukan pekerjaan mudah. Karena, pekerjaan yang mereka lakukan rawan operasi penertiban. Tak heran, kalau pada akhirnya untuk bisa menjadi loper diperlukan orang yang cerdik dan pandai dalam berkelit khususnya dari jaring yang ditebar para petugas tramtib.Untuk meminimalkan terjadinya kasus penertiban terhadap para loper, dibentuklah sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan Loper Indonesia (YLI).

Nantinya, yayasan ini selain memberikan pelatihan juga akan memberikan perlindungan dalam bentuk kesehatan para loper yang selama ini seakan terabaikan.Audiensi dengan GubernurSalah satu langkah yang akan dilakukan oleh pengurus YLI, menurut Laris Naibaho, dalam waktu dekat akan melakukan audiensi dengan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.

Dalam pertemuan itu, nantinya, akan dibicarakan bagaimana memberdayakan loper dan cara apa yang bisa dilakukan para loper supaya tidak melakukan pelanggaran saat menjajakan koran dan majalah. ”Paling tidak, jika yayasan sudah terbentuk, kami bisa mendiskusikannya dengan Pemda DKI agar memberikan ruang bagi para loper untuk melakukan aktivitasnya tanpa harus mengganggu ketertiban.

Nantinya bisa dibangun outlet-outlet khusus yang bisa dijadikan tempat bagi para loper dalam menjalankan aktivitasnya, di samping memberikan pelatihan dan memproteksi kesehatan para loper secara fisik,” kata Laris. Dan yang bisa menjadi anggota yayasan ini, adalah para loper atau siapa pun yang bisa menunjukkan aktivitasnya sebagai penjual koran atau majalah.

Untuk sementara YLI hanya akan memproteksi para loper di Jabotabek, tetapi ke depannya, akan dikembangkan hingga ke seluruh kota di nusantara. ”Sejauh ini, yang namanya loper biasanya berada di bawah kendali agen, dan penerbit. Tetapi jika memang ada orang yang ingin masuk menjadi anggota YLI sejauh dia bisa menunjukkan aktivitas kesehariannya sebagai loper, ya pasti kita terima,” ujar Laris, yang juga Ketua Penyelenggara Loper’s Day.

Masalah Dana
Soal dana, Laris dengan jujur mengakui sebagai salah satu urat nadi bisa berjalannya YLI. Kendati demikian untuk operasionalnya para pengurus yayasan ini tidak akan membebankan pembayaran iuran pada para loper, tetapi akan merundingkannya dengan para agen dan penerbit koran di Jabotabek. ”Kita memang butuh dana untuk menjalankan YLI, namun tidak mungkin kita menariknya dari loper. Karena kita semua tahu penghasilan mereka pas-pasan, kalau ditarik untuk iuran yayasan mereka makan apa.

Untuk itu, para pengurus akan mendiskusikannya pada agen atau penerbit koran dan majalah,” tegasnya.Untuk lebih jelasnya, apa, bagaimana dan kenapa YLI dibentuk, tambah Laris, bisa dibaca di website www.loper.com, yang saat ini masih dalam proses pembuatan. ”Dalam waktu dekat, website itu bisa diakses, saat ini memang masih dalam proses pembuatan,” lanjutnya.Seperti diketahui, saat ini jumlah loper di Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi sedikitnya 50.000 orang.

Tapi persoalannya, apakah yayasan ini bisa berjalan seperti yang dijanjikan para pengurusnya? Kalau boleh jujur, keberadaan yayasan ini memang sangat diperlukan oleh para loper, yang sejauh ini kondisi kesehatannya tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri dan keluarganya.

Selain itu, peran YLI juga sangat besar, jika memang bisa mengakomodasikan peran para loper dengan Pemda DKI supaya tidak selalu dijadikan objek yang harus dikejar tramtib setiap harinya, karena berjualan di trotoar dan perempatan jalan. Kita tunggu saja jawabannya dalam waktu dekat. (SH/satoto budi)

Sumber : Sinar Harapan, 11 Februari 2005.

Para Loper Menuntut Pengakuan

BISAKAH surat kabar hidup tanpa loper? Sepopuler apa pun media massa cetak, sebagus apa pun berita yang mengisi halaman-halaman koran, majalah, atau tabloid, tak berarti banyak bila tak sampai ke tangan masyarakat pembacanya. Jadi sulit rasanya, menging- kari peran loper.

APAKAH ada media cetak yang tak butuh loper? Bisa jadi memang ada. Para pejabat pemerintahan biasanya hafal benar dengan nama-nama media cetak yang tak butuh loper.
"Iya, koran yang wartawannya sekaligus loper. Ke mana-mana bawa koran, kasih liat berita sudah dimuat, lalu minta 'honor' dari pejabat," ucap salah seorang staf di lingkungan Humas Pemerintah Kotamadya Jakarta Pusat, sambil bercanda.

Biasanya media seperti itu adalah media cetak, yang tak jelas eksistensinya. Tempo-tempo terbit, tempo-tempo mati. Malah, ada media cetak yang hanya terbit atas pesanan orang tertentu. Isinya tentu sesuai dengan misi yang akan disampaikan orang itu, yang tentu saja mendanai semua penerbitan.

Biasanya, oplah cetaknya tak banyak, paling banter 1.000 eksemplar. Lopernya, wartawannya sendiri, atau investor dadakan itu. Lepas dari media yang keberadaannya tak jelas itu, peran loper sebagai ujung tombak memang tak perlu disangsikan. "Tanpa loper, siapa yang akan mengantar koran dari perusahaan media ke masyarakat?" kata Laris Naibaho, Ketua Penyelenggara Hari Loper Indonesia, The Loper's Day.

Pelaksanaan acara Hari Loper pada Jumat, 11 Maret 2005, dijadikan hari pertama dimulainya penetapan Hari Loper di Indonesia, oleh Yayasan Loper Indonesia (YLI). "Ini baru dicetuskan asli dari Indonesia. Di seluruh dunia pun, ada loper. Oleh karena itu, kita berharap nantinya hari loper juga akan ditetapkan di seluruh dunia," ucap Laris.

Meski belum mendapat pengakuan resmi dari pemerintah, namun menurut Laris, sudah ada tanggapan positif dan dukungan. "Kita sudah bertemu dengan Menteri Komunikasi dan Informasi. Justru mereka bertanya, mengapa tidak pernah ada yang menyampaikan sebelumnya. Mereka sangat mendukung adanya Hari Loper," ujarnya.

Perayaan Loper's Day Jumat siang itu, cukup meriah. Sejumlah aktor dan artis ternama, turut hadir. Penyanyi senior Ebiet G Ade, yang lagu-lagu lawasnya makin populer pascabencana tsunami dan gempa di Aceh dan Sumut, tampil memukau. Demikian juga duo bersaudara, Joy dan Jelita Tobing.

Acara yang dipandu oleh Intan Nugroho dan Geng Hijau itu, mampu menghidupkan suasana. Karena itu, ketidakhadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso seperti rencana semula, tidak membuat para loper kecewa. Mewakili gubernur, hadir Walikota Jakarta Pusat, Muhayat.

Di Istora Senayan pun bergema "Hidup Loper...", yang diteriakkan oleh ribuan loper. Mereka adalah bagian dari sekitar 50.000 loper di seluruh Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Huruf "L" yang dibentuk dari ibu jari dan telunjuk, berulang kali mereka lakukan sembari meneriakkan yel-yel "Hidup Loper...".

Itulah bentuk "proklamasi" loper, bahwa mereka sangat berarti bagi beredarnya berita di negeri ini. "Hari Loper ini, adalah hari cinta kasih bagi para loper. Mereka yang selama ini tak lepas dari struktur media, yang tenaganya jelas dibutuhkan sebagai ujung tombak, tapi tak pernah mendapat perhatian yang serius," tukas Laris.

Selain masalah kecilnya penghasilan, menurut Laris, selama ini peran loper, juga agen koran, terbenam tanpa mendapat penghargaan yang layak. Misalnya, ketika para loper koran dirazia, ditangkapi oleh para petugas Ketentraman dan Ketertiban (Tramtib), hanya sedikit yang mau memperhatikan nasib mereka.

Padahal, kalau mau dipahami, media cetak bergantung juga nasibnya pada loper. Tanpa keberadaannya, koran, majalah, atau tabloid, tak bisa sampai ke masyarakat pembacanya.
Tidak laku, artinya tidak ada pemasukan bagi media bersangkutan. Peran loper bukan cuma berarti bagi media bersangkutan, tapi juga masyarakat.

"Tanpa loper, masyarakat sulit dapatkan media, tidak bisa mendapatkan berita terbaru, terkucil," katanya. Total oplah surat kabar di Indonesia Cuma 2,2 juta. Bayangkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang 200 juta lebih. Ini bisa berarti belum maksimalnya pendistribusian media, akibat kurangnya pembinaan para agen dan loper.

Hari Loper, kata Laris, telah jadi wacana sejak lama. Namun baru diseriusi sejak Oktober 2004 lalu. Dimulai dengan pembentukan Yayasan Loper Indonesia (YLI), untuk mewadahi para agen dan loper koran. YLI merupakan lembaga yang mendapat otoritas dari penerbit dan agen dalam penyelenggaraan program kesejahteraan, pembinaan, dan pemberdayaan loper.

Keberadaan YLI sangat penting, apalagi menyadari pentingnya perlindungan bagi para loper, yang kerap dijadikan musuh oleh pemerintah, dengan penangkapan para loper dalam tiap operasi penertiban pedagang kaki lima (PKL) dan asongan.

YLI akan memberikan jaminan berupa asuransi kesehatan dan pendidikan. Jadi, walaupun berstatus loper, mereka tetap memiliki keahlian sesuai dengan minat mereka. Kita memberi pembinaan diluar pekerjaan mereka sebagai loper, salah satunya keahlian komputer

Pendidikan Gratis
Menurut Laris, Pemerin-tah Provinsi DKI Jakarta juga telah memberi respon positif. "Sedang dibicarakan kerja sama dengan YLI untuk pemberian pendidikan gratis bagi para loper usia sekolah," katanya. Lebih jauh, kata dia, dengan hari Loper diharapkan ada pengakuan, baik dari perusahaan media, maupun pemerintah, juga masyarakat.

Pengakuan dari media massa, bisa dalam bentuk pemberian hari libur pada hari-hari libur nasional. "Kita tahu, saat ini masih ada media yang tetap terbit pada hari libur," ucapnya. Hal tersebut membuat loper dipaksa untuk tetap masuk pada hari libur, atau ancaman pemecatan.
"Kita tidak bisa jual koran lebih dari satu macam. Kalau berani jual, tidak akan dikasih jualan lagi. Kalau bolos, misalnya libur tapi korannya terbit, lalu kita tidak masuk, bisa tidak dikasih jualan lagi. Atau jumlah koran yang bisa dibawa dikurangin besoknya," kata Ujang (24), salah satu loper, Kamis (10/3).

Hal seperti itu, kata Laris, harus mulai dihentikan. "Kami berharap, loper juga diberikan hari libur. Misalnya, harus terbit pada hari libur nasional seperti Natal atau Lebaran, diberi pilihan saja. Tetap masuk, tapi kalaupun tidak masuk, juga tidak akan mendapat sanksi. Kalau pimpinan media massa, liburnya bisa berapa puluh hari dalam setahun, sementara waktu kerja loper adalah 365 hari," katanya.

Pelaksanaan acara Hari Loper, kata Laris, berjalan lancar dengan banyak dukungan. Dia menyebut lega dengan kesuksesan itu. Sebab itu merupakan bentuk kemenangan para loper. Pengakuan dan penghargaan terhadap peran para loper itu, bisa jadi telah mulai terbentuk. Mudah-mudahan gerakan itu bisa meningkatkan kesejahteraan mereka, sebab selama ini upah yang kecil nyaris tak bisa mencukupi kebutuhan nyata para loper itu sebenarnya.

Sumber : Suara Pembaruan

Newspaper vendors feted

FOR Agus, 27, being able to take a day off to spend time with his eight-month old daughter, Syaula, even during an official holiday such as Friday's, is a luxury.

"I WORK seven days a week, usually 12 hours a day," said Agus, who earns Rp 1.2 million a month selling newspapers and magazines at a stall in Cilincing, North Jakarta. "If not, I wouldn't be able to afford Syaula's formula."

Agus, who worked for only half a day on Friday, was one of the estimated eight thousand people, comprising mainly print media vendors and carriers, who packed the Istora Arena in Senayan, Central Jakarta, for Friday's "Loper's Day".

Loper is the Indonesian term for people who distribute print media, such as newspapers and magazines, to readers' hands, covering vendors who sell at traffic lights to carriers who deliver door-to-door during the mornings.

Organizers called the event as a "love-fest" to honor and appreciate the vendors, which account for around 50,000 people working in the Greater Jakarta area.

"This day is dedicated to you, our beloved vendors," said Laris Naibaho, the organizer of the event. "We appreciate what you do, not just today, but on every single day."

During the three-hour event, which was free of charge, the vendors were showered with food, a hymn and a poem created in their honor, musical performances, door prizes, with the grand prize being a Hajj pilgrimage for two, and even an allowance of Rp 20,000, just for being there.

"We are often marginalized, so an appreciation like this feels marvelous," said Agus, who has been selling newspapers since he was laid off from his job at a ceramics factory in 1998, because of the economic crisis.

During the event, Laris Naibaho, who also owns a large newspaper agency in South Jakarta, declared the formation of a national foundation for the vendors, aimed at improving their welfare.

"We will protect your rights and livelihoods," Laris told the crowd, who gave him a thunderous applause.

About seven thousand of the crowd were vendors and their families and the remaining thousand were representatives from newspaper distribution agencies, publishers and the city administration.

Jakarta Governor Sutiyoso, who couldn't be present because he was attending the Lake Toba Summit in North Sumatra, sent an address that was read by the Mayor of Central Jakarta, Muhayat.

In the address, Sutiyoso acknowledged that the vendors were a vital part of the city's economy, helping reduce unemployment and having a pivotal role in the supply chain.

However, the governor gave a subtle warning, which was implicitly understood by most of the vendors, saying "My beloved vendors, don't forget to keep Jakarta beautiful and don't work in dangerous spots."

Daryatin, who earns around Rp 30,000 daily selling newspapers on the street, said that from Sutiyoso's words it was clear that the city would continue to be vigilant trying to keep vendors off the streets.

"The (police) come by at least twice a day. It makes my life hard," said Daryatin, who had spent a week in jail for peddling newspapers at traffic lights. "All I want to do is earn an honest income."

Sumber : The Jakarta Post, 13 Maret 2005

Gramedia Terbitkan Buku Karya Laris Naibaho


CERMIN Kaca Retak memuat kisah-kisah anak manusia yang barangkali juga pernah kita temui atau alami sendiri.

KISAH yang membuat kita terperangah, jengkel, kesal, sebal atau merasa terdorong untuk melakukan perubahan. Namun, kita merasa tak berdaya untuk menghadapi, apalagi mengubah, orang-orang atau peristiwa seperti itu.

Kita hanya bisa mengomel dalam hati. Membaca dan merenungkan kisah-kisah dalam buku ini tidak hanya menyadarkan kita akan sikap dan perilaku kita sehari-hari, tapi juga menggugat pola pikir yang selama ini kita pegang dan kita anggap benar, ternyata-tanpa kita sadari-bisa sangat mengganggu orang lain.

Buku ini dijual dengan harga Rp 20.000, ukuran 11 X 18 cm, dengan tebal halaman 166 halaman, ISBN : 979-22-0052-5; 20402052 dan dalam perpustakaan termasuk kategori:
Nonfiksi / Pengembangan Diri dan Inspirasional / Spiritualitas

Sumber : Toko Buku Gramedia.

Loper Koran Dapat Asuransi Jiwa


SEBANYAK 300 loper koran dan majalah di kawasan Jabotabek mulai Selasa (2/8) diasuransikan jiwa dan kesehatannya. Mereka mendapat perlindungan kesehatan dan kecelakaan kerja dari Asuransi Bumi Asih Jaya.

PERLINDUNGAN terhadap jiwa dan kesehatan para loper ini, merupakan program kerja Yayasan Loper Indonesia. Rencananya, asuransi terhadap 300 loper akan diserahkan secara simbolis oleh ketua PWI Tarman Azzam, di kantor YAI Jalan Tebet Barat IV No. 33, siang ini.

Menurut Ketua Umum YAI, Laris Naibaho, penyerahan polis asuransi perlindungan kesehatan dan jiwa para loper yang akan diserahkan siang ini merupakan tahap pertama dengan target untuk tahun 2005 paling sedikit program ini bisa diberikan pada 1.000 loper koran dan majalah.

"Pokoknya kita akan mengkaver semua loper koran dan majalah yang ada di Jabotabek. Sampai akhir tahun 2006 target kita, 5.000 loper sudah punya polis asuransi perlindungan kesehatan dan jiwa," tegasnya.

Diakui, untuk mendapatkan polis asuransi ini, para loper tidak dipungut biaya sepeser pun. Dalam hal ini YAI bekerja sama dengan para penerbit.(sat)

Sumber : Sinar Harapan, 2 Agustus 2005

Dewa-Seurieus Konser untuk Loper


ANDIL mereka besar, tapi masih perlu banyak perhatian. Sebab, loper koran pun manusia! Itulah yang agaknya menyemangati Candil, vokalis band Seurieus asal kota Bandung, untuk tampil di Konser Akar Rumput Peduli Loper, Ahad (11/12) di Lapangan Galapuri, Ciledug, Kota Tangerang, Banten.

BAND papan atas, Dewa, ikut memeriahkan panggung hiburan tersebut. Selama empat jam dari pukul 14.00 WIB, di bawah cuaca yang sempat diguyur hujan, mereka menghibur sekitar 20 ribu penonton dengan masing-masing membawakan sepuluh lagu. Jika Seurieus menggebrak dengan lagu andalan berjudul Rocker Juga Manusia, kelompok Dewa pimpinan Ahmad Dhani juga antara lain mengumandangkan tembang hit-nya, Pangeran Cinta, dari album terbaru mereka, Laskar Cinta.

Konser diselenggagaran Yayasan Loper Indonesia (YLI) bekerjasama dengan sebuah perusahaan rokok. Acara itu bukan panggung yang khusus bagi para loper, tapi panitia menjual tiket masuk bagi para penonton dari kalangan umum. ''Konser ini bertujuan untuk penggalangan dana bagi ketersediaan biaya jaminan layanan kesehatan ratusan ribu loper yang tersebar di wilayah Jabodetabek,'' ungkap Ketua Umum YLI, Laris Naibaho. Konser peduli loper akan digelar di 33 kota di Indonesia. ''Keuntungan bersih dari penjualan tiket di setiap konser yang kami adakan akan disalurkan bagi pembayaran premi asuransi kesehatan para loper yang menjadi anggota YLI,'' ujar Laris .

Sejak berdiri pada Maret 2005, saat ini YLI telah berhasil membayarkan premi asuransi kesehatan bagi 1.000 anggota. Dananya diambil dari keutungan kegiatan-kegiatan yang dialaksanakan YLI selama setahun terakhir. Aji Purwoko, salah satu pendiri YLI, mengatakan, lewat kegiatan-kegitan semacam konser, masyarakat diharapkan mau peduli pada keberadaan loper. Sebab, berbeda dengan buruh atau karyawan suatu perusahaan, kerja loper tidak dilindungi undang-undang. ''Padahal profesi mereka cukup vital dalam penyebaran informasi media cetak dan meningkatkan minat baca masyarakat,'' katanya.

"Semoga anggota yang bisa kami jaminkan asuaransi kesehatannya dapat terus bertambah dari tahun ke tahun. Sehingga bagi loper yang sakit dan membutuhkan biaya yang cukup besar dapat terbantu," tutur Aji. Acara khusus bagi loper sendiri, menurut Aji, akan diadakan sekitar Maret 2006, bertajuk Loper's Day. "Acara ini bersifat fun gathering dan ingin mengundang Presiden SBY,'' katanya. ( c41 )

Sumber : Republika, 12 Desember 2005.

Thursday, June 01, 2006

Pak Rorim di Mata Agen Koran dan Wartawan


PENDIRI Sinar Harapan (1961-1986 dan 2001-sekarang), Hendrikus Gerardus Rorimpandey, Minggu (17/11) siang dimakamkan di TPU Pondok Rangon, dalam upacara militer, dengan inspektur upacara Mayjen (purn) EY Kanter, mantan Kababinkum ABRI., dihadiri oleh para keluarga, sahabat, mantan anak buah dan handai taulan.

SEBELUMNYA, dia disemayamkan di gedung Sinar Kasih di Jalan Dewi Sartika 136 D, Jakarta Timur, komplek perkantoran koran dan percetakan yang dulu dibangunnya bersama para tokoh pendiri Grup Sinar lainnya. Di sini, mereka yang pernah dekat dengan almarhum menyampaikan kenangan dan catatan tentang Pak Rorim, panggilan akrab HG Rorimpandey.

Yang bicara bukan saja para bos dari Grup Sinar, seperti Sabam Siagian, Sasongko Sudarjo, atau para tokoh pers seperti Jacob Oetama, Aristides Katoppo dan Sofyan Lubis, tapi juga orang-orang yang pernah dan masih terus terlibat dengan Sinar Harapan. Misalnya saja para agen koran di Jakarta seperti Laris Naibaho, Sahala Hutagalung, Usdin Nainggolan, Thio Kim Hok, Dharmawan dan Rahardja (Bogor).

Laris pada kesempatan itu menyebut bahwa para agen koran ibarat pihak boru dalam adat Batak yang harus senantiasa marhobas untuk pihak hula-hula (raja) dalam hal ini penerbit koran. Namun demikian, bersama Pak Rorim dia merasakan hangatnya perhatian terhadap pada agen atau wong cilik bahkan semasa Sinar Harapan mengalami masa jayanya hingga tahun 1986. ”Pak Rorim biasa mengunjungi ke rumah kami,” ujarnya.

Maka ketika Sinar Harapan mengumumkan akan hadir kembali Laris, yang menjadi agen sejak 1971, mengaku dirinya merasa sangat senang. Ada satu kenangan terakhir baginya terutama ketika Pak Rorim masih mau menyempatkan diri untuk berbicara dengan agen-agen koran.Semangat Pak Rorim itu dirasakan kembali para agen ketika mereka diundang berkaitan dengan rencana menerbitkan kembali Sinar Harapan pada 2 Juli 2001. ”Saya masih ingat sekali waktu beliau berkata bahwa dirinya ingin sekali melihat kembali senyum cerah para agen seperti ketika Sinar Harapan masih besar di mata masyarakat,” katanya.

Ketika berbicara kepada para agen waktu itu, Pak Rorim sudah sulit berbicara, namun terpancar kuat semangat dan keyakinannya.Laris juga mengatakan bahwa di tahun 80 an, Pak Rorim lah yang pertama kali mempelopori pemberian tas kepada loper-loper koran. ”Pada saat itu untuk bertemu dengan penerbit atau Pak Rorim adalah sesuatu yang sangat istimewa, apalagi tidak jarang kita diundang untuk makan. Tidak seperti sekarang ini dimana undangan itu sudah biasa,” ujarnya.

Kesan yang sama juga disampaikan oleh Andres Piade, seorang agen Sinar Harapan di Bekasi Timur. Menurut dia, Rorimpandey adalah seorang top manager yang perhatian dengan siapapun termasuk, para agen koran. Baginya, agen adalah anggota keluarga yang paling tidak harus dihargai dan diperhatikan. Karena, tanpa agen dan loper, koran tidak akan sampai kepada pelanggan dan pembacanya.

Peduli Kesejahteraan
Mantan wartawan, Panda Nababan, yang kini Anggota DPR-RI, merupakan satu di antara jebolan wartawan Sinar Harapan yang cukup lama mengenal dan dekat dengan Almarhum Hendrikus Gerardus Rorimpandey. Panda bergabung dengan SH sejak tahun 1971, dan banyak kesan yang tak mungkin dilupakannya selama belasan tahun bersama Pak Rorim (panggilan akrab Rorimpandey). Dalam percakapan di rumah duka, Jumat (15/11) malam.

Panda mengungkapkan kalau membicarakan orang yang sudah meninggal, biasanya hanya yang baik saja. ”Tapi saya tidak berbasa-basi. Di mata saya, Om Her (sapaannya kepada Rorimpandey, red.) memang legendaris, baik sebagai pemimpin, konsitensi dan kepedulian terhadap wartawan muda, termasuk soal kesejahteraan,” ungkapnya. Ada satu kisah di tahun 1971, yang tidak mungkin dilupakannya. Sebagai wartawan pemula, di satu siang, dirinya dihampiri Pak Rorim dan mengajaknya makan siang berdua.

”Sebagai wartawan pemula, saya hampir tidak percaya dan sangat terkejut, karena yang mengajak itu Pemimpin Umum Sinar Harapan,” katanya.Di sela-sela makan Pak Rorim mengatakan, ”Pan, berita kau itu hebat! Saya bangga, karena jadi bahan pembicaraan dalam pertemuan antara Pemred dengan Menpen,” papar Panda.

”Jadi, bukan soal harga makanan, tapi itu memperlihatkan betapa besar perhatian Om Her kepada wartawan. Saya sangat merasakan itu.”Tahun 1974 dia ditugasi meliput perang Vietnam selama sebulan. Suatu hari, Pak Rorim bersama ibu mendatangi istrinya dan kemudian mengajak untuk nonton di Bioskop Megaria dan pulang membawa mie pangsit. ”Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan istri saya, karena dijemput dan diajak nonton seorang pimpinan,” kenangnya.

Dalam memimpin, Om Her selalu melakukan pendekatan personal kepada wartawan atau karyawan lain, dia mengenal semua karyawan sampai yang paling bawah. ”Pendekatan seperti itu, saya sering tiru ketika di kemudian hari saya menjadi pemimpin di koran dan majalah saya,” ujar Panda, yang mengundurkan diri dari Sinar Harapan pada 1986 sebelum koran ini dibreidel, untuk mendirikan harian Prioritas.

Panda juga merasakan sendiri sikap konsisten Rorimpandey. Suatu ketika, ada instruksi dari pihak luar (penguasa-red) agar Aristides Kattopo disingkirkan dari Sinar Harapan. Itu satu syarat bagi Sinar Harapan saat itu. ”Kebetulan saya ikuti rapat itu dan kami bersikeras menolak hal itu. Sikap kami itu sangat didukung Om Her,” ujarnya.Sikap konsisten itu juga diperlihatkan pada kasus pemberitaan yang menimbulkan konflik kepentingan..

Ada hasil investigasi mengenai proyek yang bermasalah. Proyek itu melibatkan pengusaha besar. Ketika saya konfirmasi berita itu kepada pengusaha yang bersangkutan, dengan sikap angkuh dia mengatakan, ”Saya bangun Jakarta tapi tidak pernah satu kali pun jadi head line. Tapi satu kesalahan langsung ribut. Saya juga sering bantu wartawan,” ujar Panda meniru pengusaha itu. Karena dia merasa pengusaha itu begitu sombong, maka dia berkeras melawannya.

”Kami bertengkar. Rupanya, si pengusaha mendekati teman akrab Om Her, Pak Erik Samola dan meminta agar berita itu dihentikan. Akibatnya, saya dipanggil Om Her. ”Pan, saya dengar kau bertengkar. Ada apa? Saya jelaskan, dia sombong dan saya lawan. Ini ada rekaman kalau Om Her mau dengar,” ujar Panda. Mengenai permintaan agar berita itu dihentikan, Om Her menceritakan juga kepadanya. ”Pan, dia minta berita itu distop. Menurut kamu, bagaimana? Karena saya dimintai pendapat, saya katakan saja agar diteruskan. Itu didukung Om Her. Padahal kurang cs apa Om Her dengan Pak Erik Samola? Sering Om Her mengesampingkan relasi dan bisnis dalam mengelola Sinar Harapan. I

tu bentuk konsistensinya. Jadi saya bilang, kalau soal konsistensi itu, Om Her memang legendaris,” kenang Panda.Pada masa dirinya aktif sebagai wartawan, juga sering dipanggil dan diperiksa aparat keamanan berkaitan dengan berita. Setiap kali mendapat panggilan (dari aparat keamanan-red). ”Om Her selalu berpesan agar jangan lupa membawa handuk good morning dan sikat gigi. Karena saat itu, biasanya kalau dipanggil langsung ditahan.” (fel/sat/ady/edl/kbn/dre)

Sumber : Sinar Harapan, 18 November 2002
Sumber Foto : Tokoh Indonesia

Hukum Jamin Hak Pelanggan Media Cetak secara Kuat


PENERBIT media cetak-koran, tabloid, dan majalah-tak bisa semena-mena memperlakukan pelanggannya. Sebab, hak seorang pelanggan media cetak sangat kuat dijamin oleh hukum. Pelanggan tak hanya bisa menggugat secara perdata ke pengadilan bila media yang dilangganinya selalu datang terlambat, tetapi juga berhak mempersoalkannya apabila pemberitaan yang disajikan media tersebut cenderung tidak benar atau menghasut.

PERSOALAN itu mengemuka dalam lokakarya perlindungan hukum bagi pelanggan media cetak yang diprakarsai Forum Pemerhati Penerbitan Pers Indonesia, Sabtu (15/9), di Hotel Santika, Jakarta. Narasumber yang tampil, antara lain Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Indah Suksmaningsih, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Irianto Subiakto LLM, Agung Adi Prasetyo dari Harian Kompas, dan praktisi keagenan media cetak, Laris Naibaho.

Irianto mengingatkan, pelanggan media cetak bisa saja menggugat ke pengadilan apabila koran, tabloid, dan majalah yang dilangganinya selalu datang terlambat. Karena, jelas keterlambatan itu merugikan pelanggan. Pelanggan media cetak mempunyai hak mendapatkan informasi tepat waktu.

"Saya bukan mengajak masyarakat untuk menggugat penerbit maupun agen, apabila media yang dilangganinya selalu tiba terlambat. Namun, harus diingat pelanggan itu mempunyai hak yang dijamin undang-undang (UU). Saya pribadi lebih percaya pada hukum pasar. Kalau media cetak itu selalu terlambat diantarkan kepada pelanggannya, pasti pelanggan akan beralih pada media yang lain," tegas praktisi hukum tersebut.

Irianto menegaskan, Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen pun secara tegas menjamin hak pelanggan media cetak atas informasi yang disajikan media tersebut. Pasal 10 UU itu menyatakan, pelaku usaha dilarang memberikan pernyataan yang tidak benar atau menyesatkan. Pelaku pelanggaran Pasal 10 UU 8/1999 itu dapat dikenai hukuman maksimal lima tahun penjara dan denda maksimal Rp 2 milyar.

Indah Suksmaningsih juga mengingatkan, pengelola media cetak semestinya menghargai hak pelanggan - masyarakat - untuk mendapatkan informasi. Tetapi, berpulang pada pelaku media cetak apakah akan memposisikan dirinya sebagai pemberi informasi atau mengabaikan, karena ada kepentingan lain. Pilihan itu, tentu saja mempunyai konsekuensi yang berbeda-beda.

Diakui, masyarakat memang mempunyai hak penuh untuk menentukan pilihan terhadap media cetak yang akan dibacanya. Namun, diingatkan Indah, media massa yang tak dikelola secara berhati-hati- seperti diingatkan Sejarawan Amerika Serikat Paul Jhonson -akan terlibat dalam tujuh dosa besar yang mematikan. Tujuh dosa tersebut, adalah distorsi informasi, dramatisasi fakta palsu, mengganggu hak seseorang, pembunuhan karakter, eksploitasi seks, meracuni pikiran anak-anak, dan penyalahgunaan kekuasaan. (tra)

Sumber : Kompas, Senin, 17 September 2001
Sumber Foto : Tempo Interaktif.

Loper’s Day di Senayan

Ribuan pengantar media cetak (loper), hari Jumat (11/2) ini akan menggelar acara bertajuk "Loper’s Day" di Istana Olahraga Senayan pukul 15.00-18.00.

Ketua Penyelenggara Laris Naibaho menyatakan, dalam acara itu akan dideklarasikan pula berdirinya Yayasan Loper Indonesia (YLI) yang nantinya diharapkan bisa menaungi segala sesuatu yang menyangkut kehidupan loper, terutama masalah kesehatan. Dengan demikian, para loper akan lebih merasa nyaman dalam melakukan pekerjaannya mengantar koran dan media cetak lain kepada pelanggannya. (*/msh)

Sumber : Kompas, 11 Februari 2005

Dakwaan Salah Alamat

Para agen media cetak kini diliputi perasaan ketir-ketir. Bukan apa-apa. M.P. Simorangkir, pemilik Tohoma Agency di Lampung, telah dijadikan tersangka dalam perkara penyebaran pornografi.

Pada sidang yang digelar Pengadilan Negeri Bandar Lampung awal Oktober lalu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Jahudin Habim, S.H., mendakwa, pria berusia 72 tahun itu melanggar pasal 282 KUHP.

Simorangkir pada Juli lalu telah menjual 92 eksemplar majalah Fenomena edisi No. 065/03/1999. Media terbitan Jakarta itu memang menampilkan foto-foto syur, yang dalam bahasa JPU, "... gambar wanita bugil tanpa busana, yang buah dadanya kelihatan dan gambar lainnya yang melanggar kesopanan." Pada sidang tanggal 9 Oktober lalu Jahudin meminta, majelis hakim menolak keberatan tim penasihat hukum. "Kami memohon, pemeriksaan perkara ini dapat dilanjutkan."

Untuk menyatakan solidaritas, puluhan agen dari Lampung dan Jakarta menyaksikan jalannya persidangan. Umumnya mereka menyesalkan tindakan Polda Lampung dan Kejaksaan. "Sebelum diajukan ke pengadilan, seharusnya sudah ada ketetapan hukum kalau majalah Fenomena tidak boleh beredar," ujar Laris Naibaho, ketua umum Koperasi Agen Media
Cetak Indonesia (Kopamcik)
.
PWI Cabang Lampung juga menyatakan, seluruh majalah yang dijual M.P. Simorangkir adalah media yang memiliki Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP).

Memang, majalah Fenomena, yang mempunyai izin dari Departemen Penerangan no: 1183/SK/SIUPP/Menpen/1999, tengah menghadapi kasus penyebaran pornografi. Bersama Fenomena, ada pula beberapa media yang disidik kepolisian berkaitan dengan pelanggaran pasal 282 KUHP. Antara lain, majalah Matra, Popular, Liberty, Harmonis, HOT, Tangisan Hati,
dan Tragedi. Beberapa di antaranya, menurut Kepala Dinas Polri Brigjen Togar Sianipar, berkasnya sudah dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum.

Pemred majalah Tangisan Hati Moch. Taufiq dan Pemred majalah Tragedi Furi Aprianto, misalnya, telah dijadikan tersangka. Sementara itu, Pemred majalah Popular - yang menampilkan kover Sophia Latjuba - dan majalah Matra - menayangkan foto Inneke Koesherawati - terus disidik aparat. Namun, sejak Agustus lalu, pengadilan belum menjatuhkan vonis terhadap insan pers yang terlibat perkara penyebaran pornografi.

Menyangkut kasus Simorangkir, Kopamcik berusaha melobi beberapa pihak. Mereka menuntut transparansi dan keadilan, sehingga para agen dan pengecer kembali tenang bekerja. Pekan lalu mereka mendatangi kantor PWI Cabang Bandar Lampung. Menurut Laris Naibaho, ada kejanggalan yang terjadi pada kasus Simorangkir. "Semua isi media ber-SIUPP tanggung
jawabnya ada di tangan redaksi, bukan pada agen atau pengecer." Yang melanggar kesopanan, ujarnya lagi, bukan pengecer, tetapi penerbitnya. "Seharusnya bukan pengedarnya yang dimejahijaukan, tetapi pimpinan perusahaan."

Sumber : Media cetak